
Fokus Berita – Kolaborasi dan konsensus menjadi kunci untuk AI yang inklusif

Para peneliti menyesuaikan robot humanoid di laboratorium kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada 31 Januari 2024. (Xinhua/Jin Liwang)
Teknologi AI global berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan munculnya berbagai terobosan, model-model bisnis inovatif, serta banyak aplikasi.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dalam lanskap teknologi yang terus berkembang saat ini, komunitas global perlu memperkuat kerja sama untuk mendorong pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang inklusif dan berkelanjutan demi kepentingan seluruh umat manusia.Pernyataan yang ditandatangani oleh sekitar 60 negara dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Aksi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence Action Summit di Paris baru-baru ini menyerukan upaya untuk meningkatkan aksesibilitas AI dan memastikan teknologi tersebut tetap terbuka, inklusif, transparan, etis, aman, serta dapat dipercaya.Teknologi AI global berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan munculnya berbagai terobosan, model-model bisnis inovatif, serta banyak aplikasi. Para raksasa teknologi di berbagai negara juga meningkatkan investasi mereka secara signifikan di sektor ini. Meskipun membawa peluang penting bagi pembangunan ekonomi dan sosial, pengembangan AI juga menghadapi risiko tak terduga dan berbagai tantangan kompleks, sehingga konsensus dalam tata kelola AI global menjadi sangat penting.China menekankan keterbukaan, inklusivitas, dan manfaat bersama untuk membantu menjembatani kesenjangan digital global. Saat China mengejar pembangunannya, China juga memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemajuan AI global.Menurut Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (World Intellectual Property Organization/WIPO), dari 2014 hingga 2023, China mengajukan lebih dari 38.000 permohonan paten AI generatif, menduduki peringkat pertama di dunia. Negara itu juga memiliki lebih dari 4.500 perusahaan AI, dengan skala industri AI intinya nyaris menyentuh angka 600 miliar yuan atau sekitar 83,68 miliar dolar AS.
Peserta berinteraksi dengan robot untuk perawatan sosial dalam acara Artificial Intelligence (AI) for Good Global Summit 2024 di Jenewa, Swiss, pada 30 Mei 2024. (Xinhua/Lian Yi)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China perkuat inovasi ilmiah dan teknologi dalam mesin dan peralatan pertanian
Indonesia
•
17 Aug 2022

Kanada umumkan dukungan untuk proyek hidrogen hijau baru
Indonesia
•
29 Feb 2024

COVID-19 – Ahli: Orang dengan antibodi tinggi mungkin terinfeksi tanpa gejala
Indonesia
•
05 Mar 2021

Ilmuwan Australia ciptakan metode ramah lingkungan untuk ekstraksi lithium
Indonesia
•
10 Jul 2025


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
