
Tim peneliti Indonesia buat baterai LFP dari limbah industri besi dan baja

Ilustrasi. (Vardan Papikyan on Unsplash)
Baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP) inovasi tim peneliti Indonesia dibuat dengan unsur besi (Fe) yang berasal dari material limbah industri besi dan baja.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Tim peneliti Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah berhasil mengembangkan baterai jenis Lithium Ferro Phosphate (LFP) dengan menggantikan sumber besi (Fe) komersial yang berasal dari material limbah industri besi dan baja.
Inovasi baterai sekunder berbahan baku lokal itu dikenalkan dalam rangkaian kegiatan ilmiah internasional ‘Workshop on 2D Functional Materials for Energy, Environment, and Health Application’ serta focus group discussion ‘Rare Earth Elements: Potential Resources and Downstream Prospects’, yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, pada Rabu (15/4).
Inovasi tersebut juga mencakup eksplorasi bahan baku litium (Li) dari sumber alternatif, seperti air laut dan bittern, sebagai langkah menuju kemandirian pasokan material strategis.
Bittern atau ‘air tua’ adalah cairan pekat sisa hasil sampingan dari proses kristalisasi pembuatan garam laut. Cairan ini kaya akan mineral penting seperti magnesium (MgCl₂, MgSO₄), kalium (KCl), dan natrium (NaBr) yang tidak mengkristal. Bittern banyak dimanfaatkan untuk suplemen, bahan pengental tahu, bahan koagulan limbah, hingga produk kesehatan kulit.
Baterai hasil pengembangan tim peneliti BRIN itu menunjukkan spesifikasi yang kompetitif dengan produk komersial.
Hasil pengujian menunjukkan kapasitas spesifik mencapai 140–160 mAh/g, dengan rentang tegangan operasi 2,5–3,7 V dan tegangan nominal 3,2 V, sesuai karakteristik sistem LFP.
Baterai ini juga memiliki stabilitas termal yang tinggi, sehingga lebih aman terhadap risiko overheating, serta ketahanan siklus yang stabil di atas 100 siklus dengan efisiensi coulombic lebih dari 95 persen.
Purwarupa baterai inovatif tersebut telah dikembangkan dalam berbagai format, mulai dari sel koin hingga sel silinder (18650), yang dapat dirangkai menjadi modul skala besar.
Dalam pengembangannya, BRIN juga menjalin kolaborasi dengan PT PLN Indonesia Power dan Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk memodifikasi material katoda LFP dan anoda grafit dalam rangka menghasilkan prototipe sel baterai ion litium.
Melalui kolaborasi tersebut, tim peneliti berhasil memproduksi 450 sel baterai silinder tipe 18650 yang kemudian dirakit menjadi battery pack dan telah diuji langsung pada sepeda listrik (e-bike). Uji coba ini menunjukkan kinerja yang menjanjikan sebagai solusi penyimpanan energi berbasis baterai (Battery Energy Storage System/BESS) untuk mendukung transisi energi.
Kepala Pusat Riset Material Energi BRIN, Gerald Ensang Timuda, menegaskan bahwa penguasaan teknologi baterai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing industri nasional. Selama ini, industri baterai di Indonesia masih didominasi oleh kegiatan perakitan dengan ketergantungan tinggi terhadap teknologi luar negeri.
“Penting untuk mendorong industri dalam negeri mengadopsi hasil riset nasional agar tercipta ekosistem industri baterai yang mandiri dan berbasis inovasi domestik. Optimalisasi pemanfaatan bahan baku lokal menjadi kunci untuk memperkuat rantai pasok sekaligus mengurangi ketergantungan impor,” ujar Gerald.
Inovasi baterai berbasis bahan lokal ini diharapkan mampu mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia tahun 2060 serta mempercepat implementasi energi baru terbarukan melalui sistem penyimpanan energi yang andal.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Obesitas dan alkohol jadi pemicu utama risiko kanker payudara pada wanita seiring bertambahnya usia
Indonesia
•
30 Mar 2026

Dzo hasil kloning sel somatik pertama di dunia lahir di Xizang, China
Indonesia
•
14 Jul 2025

Ilmuwan temukan strategi rahasia bakteri untuk bertahan hidup, buka jalan bagi pengobatan baru
Indonesia
•
03 Jan 2026

Tim ilmuwan China ungkap cara air di mantel dalam jadikan Bumi layak huni
Indonesia
•
13 Dec 2025


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
