
Tingkat kemiskinan Sudan melonjak hingga 71 persen di tengah konflik yang berlangsung

Para pengungsi berlindung di bawah tenda yang terbuat dari kayu dan kain di Tawila, Darfur Utara, Sudan, pada 8 Agustus 2025. (Xinhua/Program Pangan Dunia PBB)
Tingkat kemiskinan Sudan melonjak dari 21 persen menjadi 71 persen akibat konflik yang sedang berlangsung, yang menyebabkan 23 juta warga berada di bawah garis kemiskinan.
Khartoum, Sudan (Xinhua/Indonesia Window) – Tingkat kemiskinan Sudan melonjak dari 21 persen menjadi 71 persen akibat konflik yang sedang berlangsung, yang menyebabkan 23 juta warga berada di bawah garis kemiskinan, demikian dilansir kantor berita resmi Sudan, SUNA, pada Sabtu (8/11).Pemerintah Sudan sedang melaksanakan proyek-proyek produktif dan menciptakan lapangan kerja untuk memerangi kemiskinan, kata Menteri Sumber Daya Manusia dan Kesejahteraan Sosial Sudan Mutasim Ahmed Saleh seperti dikutip oleh SUNA.Saleh menekankan pengalokasian dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) untuk proyek-proyek pembangunan dan perluasan program mikrofinansial bagi mereka yang kehilangan sumber penghasilan.Kementerian itu berkoordinasi dengan Bank Sentral Sudan untuk melonggarkan syarat pembiayaan dan meningkatkan batas pinjaman bagi proyek-proyek skala kecil guna mendukung keluarga dan menghidupkan kembali perekonomian, imbuh Saleh.Menurut laporan 3 November yang dirilis oleh Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (Integrated Food Security Phase Classification), sebuah inisiatif global multi-pemangku kepentingan yang bertujuan meningkatkan analisis ketahanan pangan dan gizi untuk mendukung pengambilan keputusan, sebanyak 21,2 juta orang, atau 45 persen populasi Sudan, menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi pada September, dengan kondisi kelaparan dilaporkan di El Fasher dan Kadugli.Namun demikian, pemerintah Sudan membantah adanya kesenjangan pangan, menyebut laporan-laporan sebelumnya tentang kelaparan sebagai "berlebihan".Sudan masih dilanda konflik menghancurkan antara Angkatan Bersenjata Sudan dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF), yang meletus pada April 2023. Perang tersebut menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi, sehingga semakin menjerumuskan negara tersebut ke dalam krisis kemanusiaan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Lembaga keuangan China dan asing serukan peningkatan kerja sama internasional
Indonesia
•
25 Nov 2022

Arab Saudi tawarkan potensi investasi tambang terbesar di dunia
Indonesia
•
04 Sep 2021

China akan buat kebijakan moneter lebih tertarget dan efektif
Indonesia
•
09 Jan 2023

General Motors laporkan kinerja yang kuat pada 2022
Indonesia
•
01 Feb 2023


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
