
Survei: Tingkat merokok di Selandia Baru turun jadi 6,8 persen

Ilustrasi. (Cristian Guerrero on Unsplash)
Tingkat merokok harian di Selandia Baru mencatatkan penurunan menjadi 6,8 persen, turun tipis dari 6,9 persen pada tahun sebelumnya, mencerminkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Wellington, Selandia Baru (Xinhua/Indonesia Window) – Tingkat merokok harian di Selandia Baru mencatatkan penurunan menjadi 6,8 persen, turun tipis dari 6,9 persen pada tahun sebelumnya, mencerminkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Demikian menurut Survei Kesehatan Selandia Baru (New Zealand Health Survey) terbaru yang dirilis pada Rabu (19/11).Survei 2024/2025, yang pengumpulan datanya dirampungkan pada Juli 2024 hingga Juli 2025, menemukan bahwa 6,8 persen orang dewasa di Selandia Baru merupakan perokok harian, turun signifikan dari 16,4 persen pada survei 2011/2012."Jumlah perokok harian telah berkurang hampir separuh sejak 2011/2012, dan kini Selandia Baru memiliki sekitar 278.000 lebih sedikit perokok harian," ungkap survei tersebut.Data terbaru itu menyoroti penurunan signifikan dalam paparan asap rokok sekunder (pasif), dengan 1,3 persen anak-anak terpapar asap rokok sekunder di dalam rumah pada 2024/2025, turun dari 3,3 persen pada 2015/2016.Tingkat merokok di kalangan anak muda juga menurun seiring waktu, papar survei tersebut, serta menambahkan bahwa tingkat merokok harian di kalangan anak muda berusia 15-24 tahun kini mencapai 3,2 persen, turun dari 19,2 persen saat survei dimulai 13 tahun lalu.Namun demikian, prevalensi penggunaan rokok elektrik atau vape harian meningkat tajam, mencapai 11,7 persen pada 2024/2025 dibandingkan dengan hanya 0,9 persen pada 2015/2016, menurut statistik.Upaya terus dilakukan untuk mencapai target Smokefree (Bebas Rokok) 2025 dengan memastikan para perokok memiliki alat dan dukungan praktis untuk berhenti merokok, termasuk akses untuk mendapatkan alternatif yang lebih tidak berbahaya seperti vape, ungkap survei itu.Wakil Menteri Kesehatan Selandia Baru Casey Costello mengatakan tantangan saat ini adalah membantu para perokok lanjut usia (lansia) yang telah merokok dalam jangka waktu yang lama untuk berhenti.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Remaja Islam Sunda Kelapa bangkitkan semangat kaum muda sambut Ramadhan
Indonesia
•
19 Feb 2025

Duka dan ketakutan selimuti penduduk Gaza di tengah serangan udara Israel
Indonesia
•
07 Aug 2022

Angka kelahiran turun, Singapura hadapi tantangan penuaan penduduk
Indonesia
•
17 Jul 2024

China bersiap hadapi puncak perjalanan pascaliburan Tahun Baru Imlek
Indonesia
•
27 Jan 2023


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
