
Toyota Indonesia gandeng CATL kembangkan baterai kendaraan elektrifikasi

Tempat pengisian daya ultracepat Shenxing terlihat di stan Contemporary Amperex Technology (CATL) di area Rantai Kendaraan Pintar di Pameran Rantai Pasokan Internasional China (China International Supply Chain Expo/CISCE) ketiga di Beijing, ibu kota China, pada 18 Juli 2025. (Xinhua/Zhang Chenlin)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan produsen baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co., Ltd. (CATL), mengumumkan kerja sama produksi baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia pada Senin (20/4). Kemitraan terbaru ini menambah daftar keterlibatan CATL dalam pengembangan ekosistem kendaraan berbasis baterai di Tanah Air.
Dalam keterangannya, TMMIN akan menggelontorkan total investasi senilai 1,3 triliun rupiah yang akan mencakup penguatan rantai pasokan baterai dari hulu hingga hilir. Baterai produksi lokal ini akan digunakan pada sejumlah lini kendaraan listrik hybrid (hybrid electric vehicle/HEV) Toyota di Indonesia, termasuk untuk rencana ekspor.
"Melalui kolaborasi strategis dengan CATL di Indonesia, kami berupaya meningkatkan kemampuan produksi battery assembly pack hingga pembuatan sel baterai dan modul secara menyeluruh," ungkap Nandi Julyanto, presiden direktur TMMIN, dalam keterangannya.
Kemitraan dengan CATL ini akan memperkuat lokalisasi produksi baterai Toyota di Indonesia, yang saat ini masih berupa perakitan baterai pack di pabrik yang berlokasi di Karawang, Provinsi Jawa Barat. Nandi mengatakan bahwa dengan demikian, komponen sel baterai dan modul yang saat ini masih diimpor nantinya sudah bisa diproduksi oleh pekerja lokal.
Kolaborasi dengan Toyota ini menambah deretan partisipasi CATL dalam inisiatif pengembangan ekosistem baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Proyek lainnya adalah pabrik baterai raksasa hasil konsorsium antara CATL dan PT Industri Baterai Indonesia (IBC) di Karawang yang dijadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun ini. Fasilitas tersebut akan memproduksi sel baterai, modul, dan pack, sekaligus sistem penyimpanan energi berbasis baterai (Battery Energy Storage System/BESS) dengan kapasitas produksi 6,9 GWh pada tahap awal dan akan meningkat menjadi 15 GWh pada tahap berikutnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pemerintah perkirakan pendapatan negara capai 109,5 persen dari target 2021
Indonesia
•
23 Nov 2021

Perdagangan luar negeri Shanghai naik 5,3 persen pada Januari-Oktober 2022
Indonesia
•
22 Nov 2022

Pemkab Bogor apresiasi penyelenggaraan Muslim LifeFair, harapkan kolaborasi untuk kembangkan ekosistem halal
Indonesia
•
27 Jun 2025

Indonesia ikut pameran makanan Australia, genjot ekspor
Indonesia
•
11 Sep 2019


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Piraeus hingga Jakarta-Bandung, kisah visi Xi Jinping tentang pembangunan bersama
Indonesia
•
11 Aug 2026

Turkiye makin diminati wisatawan China, 245.000 berkunjung dalam enam bulan
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari lengan robot hingga AI, begini teknologi China yang mulai membidik Indonesia
Indonesia
•
10 Aug 2026

Jepang dihantam gelombang kebangkrutan, 1.028 perusahaan gulung tikar dalam sebulan
Indonesia
•
10 Aug 2026
