
Pacu Jawi: Tradisi balap sapi di Tanah Minang yang memacu adrenalin

Seorang pria mengikuti lomba balap sapi tradisional Pacu Jawi di Nagari Tabek, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat, pada 5 April 2025. Pacu Jawi diadakan setiap tahun di sawah berlumpur untuk merayakan berakhirnya musim panen. (Xinhua/Yorri Farli)
Tradisi Pacu Jawi awalnya merupakan bagian dari perayaan setelah panen padi, sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi yang melimpah, dan kini menjadi perlombaan yang mempertaruhkan kehormatan dan kebanggaan peternak sapi.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) - Di tengah hamparan sawah nan hijau dan berlumpur, ribuan orang berkumpul menyaksikan adu kecepatan yang tak biasa - sapi berlari kencang sambil menarik seorang joki yang bergantung di belakangnya. Inilah Pacu Jawi, tradisi unik dari Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang telah berlangsung turun-temurun dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau.Asal usul budayaPacu Jawi, yang secara harfiah berarti 'pacuan sapi', diperkirakan telah ada sejak abad ke-17. Awalnya, tradisi ini merupakan bagian dari perayaan setelah panen padi, sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi yang melimpah. Kini, Pacu Jawi tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga perlombaan yang mempertaruhkan kehormatan dan kebanggaan peternak sapi.Pacu Jawi bukan sekadar lomba, tapi juga budaya yang mempererat hubungan antarwarga dan melestarikan kearifan lokal.Dalam Pacu Jawi, sepasang sapi jantan dipacu di sawah berlumpur sepanjang 60–100 meter. Seorang joki (biasanya remaja atau dewasa muda) berdiri di atas palangai (bajak kayu) yang diikatkan ke tubuh sapi, lalu memegang ekor atau pinggang sapi untuk menjaga keseimbangan. Tidak ada tali kekang, sehingga kendali penuh bergantung pada keterampilan joki dan insting si sapi.Pemenang pacuan ditentukan berdasarkan kecepatan dan ketepatan sapi berlari lurus di jalur yang ditentukan. Sapi yang meliuk-liuk atau keluar jalur akan didiskualifikasi. Uniknya, hadiah bagi pemenang bukan uang, tetapi kebanggaan dan harga diri.
Seorang pria mengikuti lomba balap sapi tradisional Pacu Jawi di Nagari Tabek, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat, pada 5 April 2025. Pacu Jawi diadakan setiap tahun di sawah berlumpur untuk merayakan berakhirnya musim panen. (Xinhua/Yorri Farli)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kajian Ilmiah – Harta yang membahagiakan vs harta yang menjurumuskan
Indonesia
•
25 Oct 2025

Warga Palestina yang tewas di Gaza capai 34.356 jiwa di tengah kekhawatiran operasi Israel di Rafah
Indonesia
•
30 Apr 2024

Asosiasi Medis Afrika Selatan putuskan hubungan dengan mitra Israel, desak penangguhan global
Indonesia
•
06 Oct 2025

Korban tewas akibat tanah longsor di Brasil bertambah jadi 65 orang
Indonesia
•
28 Feb 2023


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
