
Feature – Perang hancurkan harapan anak-anak amputee di Gaza

Seorang anak amputee Palestina terlihat di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Kota Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, pada 5 Oktober 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Trauma psikologis akibat amputasi sering kali mendalam dan berlangsung lama, dengan jumlah kasus amputasi di Gaza mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 kasus.
Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Di Jalur Gaza tengah, seorang anak amputee Palestina bernama Samih Abdul Wahid (12) menghadapi berbagai tantangan sehari-hari dengan hanya menggunakan kaki kanannya. Tujuh bulan yang lalu, serangan Israel di Kota Gaza tidak hanya merenggut kaki kirinya, tetapi juga nyawa kedua orangtuanya, memusnahkan harapan masa depannya."Ledakan itu menyebabkan awan putih besar di sekitar saya yang kemudian berubah menjadi hitam," ujar Abdul Wahid saat menceritakan kejadian nahas yang menimpanya. "Ketika saya terbangun di rumah sakit, kaki saya sudah tidak ada, begitu juga dengan orangtua saya."Setelah menjalani perawatan selama dua bulan di rumah sakit itu, Abdul Wahid kini tinggal bersama bibinya dalam tenda darurat di pantai Deir al-Balah, sebuah kota yang berjarak lebih dari 14 km sebelah selatan Gaza City. Untuk mendapatkan makanan dari pasar terdekat, dia harus berjalan setidaknya 2 km menggunakan kruk. Sebagai seorang amputee atau orang yang bagian tubuhnya diamputasi, setiap langkahnya terasa seperti perjuangan."Saya berharap saya tewas," ratap anak laki-laki itu dengan suara pelan seperti berbisik. "Saya tidak punya apa-apa lagi dalam kehidupan yang mengerikan ini selain menjadi beban bagi masyarakat."Sejak pecahnya konflik antara Israel dan Hamas di Gaza pada 7 Oktober 2023, lebih dari 41.800 warga Palestina tewas dan lebih dari 96.900 orang lainnya terluka di Jalur Gaza, dengan sebagian besar di antaranya merupakan anak-anak dan perempuan, menurut otoritas kesehatan di Gaza.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada pertengahan September lalu memperkirakan setidaknya 22.500 kasus cedera yang dialami para korban luka tersebut merupakan cedera yang "mengubah hidup" dan membutuhkan rehabilitasi jangka panjang. Dari jumlah tersebut, cedera parah pada anggota tubuh merupakan kasus yang paling banyak terjadi, dengan jumlah kasus amputasi mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 kasus.
Anak-anak amputee Palestina terlihat di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Kota Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, pada 5 Oktober 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Rumania lanjutkan program bayi tabung untuk atasi penurunan angka kelahiran
Indonesia
•
25 Jul 2024

FAO sepakati 44 juta dolar AS untuk kurangi risiko banjir dan mitigasi kekeringan di Somalia
Indonesia
•
11 Dec 2023

Hampir separuh remaja Amerika alami ‘cyberbullying’
Indonesia
•
17 Dec 2022

COVID-19 – Arab Saudi ikut dalam uji global vaksin Rusia
Indonesia
•
21 Aug 2020


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
