
UNICEF: Hampir setiap anak di dunia terdampak gelombang panas pada 2050

Sejumlah anak menghabiskan waktu pada musim semi di tengah gelombang panas di dekat Yerusalem pada 22 Agustus 2022. (Xinhua/Gil Cohen Magen)
Gelombang panas akan berdampak pada lebih dariklii 2 miliar anak di seluruh dunia pada pertengahan abad ini, terlepas dari apakah rata-rata suhu global naik 1,7 derajat Celsius di atas level praindustri jika emisi gas rumah kaca rendah, atau apakah rata-rata suhu itu naik 2,4 derajat Celsius, jika emisi tergolong tinggi.
PBB (Xinhua) – Cuaca panas telah menjadi risiko kesehatan di banyak negara, tetapi data terbaru menunjukkan bahwa hampir setiap anak di dunia akan terdampak oleh gelombang panas pada 2050, demikian Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) memperingatkan pada Selasa (25/10).Menurut badan PBB itu, sedikitnya setengah miliar anak muda sudah terpapar gelombang panas dengan frekuensi tinggi akibat perubahan iklim.Pada pertengahan abad ini, diperkirakan bahwa lebih dari 2 miliar anak akan terpapar gelombang panas yang "(frekuensinya) lebih sering, (durasinya) lebih lama, dan lebih parah"."Krisis iklim adalah sebuah krisis hak-hak anak, dan krisis itu sudah membawa dampak yang menghancurkan ke kehidupan dan masa depan anak-anak," demikian Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell memperingatkan.Kebakaran hutan dan gelombang panas yang melanda India, Eropa, dan Amerika Utara tahun ini adalah "contoh serius lainnya dari dampak perubahan iklim terhadap anak-anak," imbuhnya.Data baru yang dipublikasikan dalam laporan badan tersebut, yang bertajuk ‘Tahun Paling Dingin di Sisa Hidup Mereka’ (The Coldest Year of the Rest of Their Lives), menggarisbawahi bahwa anak-anak menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan orang dewasa ketika dihadapkan dengan kondisi panas yang ekstrem.Hal ini terjadi karena kemampuan anak-anak untuk mengatur suhu tubuhnya lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Semakin sering seorang anak terpapar gelombang panas, semakin besar kemungkinan munculnya masalah kesehatan seperti kondisi pernapasan kronis, asma, dan penyakit kardiovaskular.
Foto yang diabadikan pada 20 Juli 2022 ini memperlihatkan kepulan asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan di El Barco de Valdeorras, Galicia, Spanyol. (Xinhua/Junta de Galicia)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Beijing terus catat peningkatan keanekaragaman hayati
Indonesia
•
23 May 2023

Korban tewas tabrakan kereta di Yunani bertambah jadi 57 orang
Indonesia
•
03 Mar 2023

Korban ranjau di Afghanistan kecam perang, serukan perdamaian
Indonesia
•
04 Dec 2024

Kecelakaan balon udara di Turkiye tewaskan pilot dan lukai 19 wisatawan Indonesia
Indonesia
•
16 Jun 2025


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
