
Usai berkomitmen pada gencatan senjata, Israel tegaskan tak akan tarik pasukan dari Gaza

Warga Palestina memeriksa puing-puing kehancuran usai serangan udara Israel di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Gaza City, pada 30 Juli 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Yerusalem (Al-Quds), Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Seorang pejabat senior pemerintah Israel pada Senin (3/8) mengatakan bahwa Israel akan mempertahankan posisi-posisi militernya di Gaza, setelah mereka didesak untuk menghentikan serangan mematikan terhadap wilayah kantong Palestina tersebut.
"Israel tidak akan mundur dari posisi saat ini di Jalur Gaza dan akan terus menggagalkan ancaman apa pun terhadap warga sipil dan tentara kami," kata pejabat tersebut, yang enggan disebutkan namanya.
Pernyataan itu muncul usai pertemuan pada Senin antara Nickolay Mladenov, selaku "perwakilan tinggi untuk Gaza" dari "Dewan Perdamaian" pimpinan Amerika Serikat (AS), dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menurut laporan saluran berita milik Israel Channel 12, Mladenov mengatakan kepada Netanyahu bahwa Israel harus menghentikan serangannya terhadap Gaza, sesuai dengan komitmen yang telah dibuat dalam rencana gencatan senjata Gaza.
Pada Senin yang sama, dua menteri sayap kanan ekstrem dalam kabinet Israel mendesak Netanyahu untuk memblokir penempatan Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) di Gaza.
Dalam surat yang ditujukan kepada Netanyahu, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich dan Menteri Permukiman dan Misi Nasional Israel Orit Strock, keduanya merupakan anggota Partai Zionisme Religius, mengatakan bahwa keputusan awal, yang menyetujui masuknya ISF ke Gaza, didasarkan pada "informasi yang menyesatkan."
Mereka mengatakan Washington telah berjanji kepada Israel bahwa ISF akan ditugaskan untuk mengumpulkan senjata Hamas dan melaksanakan demiliterisasi Gaza, tetapi perkembangan terkini menimbulkan kekhawatiran bahwa ISF juga dapat membatasi aktivitas militer Israel di wilayah kantong tersebut.
Perkembangan ini terjadi menyusul upaya diplomatik baru terkait masa depan gencatan senjata di Gaza.
Pada Kamis (30/7) pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa badan yang disebut "Dewan Perdamaian" telah mencapai kesepakatan mengenai "pelucutan senjata total" terhadap Hamas dan semua kelompok bersenjata lainnya di Gaza.
Pada Jumat (31/7), Hamas mengatakan telah menyetujui "versi terbaru dari peta jalan" untuk perjanjian gencatan senjata fase kedua di Gaza setelah melalui perundingan "sengit."
Namun demikian, Hamas mensyaratkan bahwa pengaturan terkait persenjataan hanya dapat dilakukan jika "agresi" dihentikan sepenuhnya, pasukan Israel ditarik dari Gaza, dan proses rekonstruksi menunjukkan kemajuan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peringati tiga dekade hubungan diplomatik, Rusia-Kazakhstan perkuat kerja sama
Indonesia
•
29 Nov 2022

China layangkan protes pada WTO soal subsidi AS untuk kendaraan listrik
Indonesia
•
29 Mar 2024

Rusia dan Iran sepakat perdalam kerja sama
Indonesia
•
31 Mar 2023

COVID-19 – Vaksin Medigen dijual 408.000 rupiah per dosis ke CDC Taiwan
Indonesia
•
01 Nov 2022


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
