Esai – Rezeki turun dari langit, ikhtiar tumbuh di atas Bumi

Ilustrasi. (AI-generated image)

"Saya sudah rajin salat, sering bersedekah, bahkan berusaha menjauhi hal-hal yang haram. Mengapa rezeki saya belum juga lapang?"

Pertanyaan seperti ini mungkin pernah terlintas di benak banyak orang. Tidak sedikit yang mengucapkannya dengan lirih setelah bertahun-tahun bekerja keras. Ada pula yang menyimpannya sendiri karena takut dianggap kurang bersyukur.

Kegelisahan itu wajar. Sebab di sekitar kita, kenyataan sering tampak membingungkan karena tidak persis seperti ‘logika agama’ yang ‘jika A maka B’.

Ada orang yang tekun beribadah tetapi hidupnya pas-pasan. Sebaliknya, ada yang tampak jauh dari nilai-nilai agama, namun usahanya berkembang pesat, rezeki ngalir terus, anak-anak tumbuh sehat dan pintar-pintar.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih mendasar: jika rezeki sudah ditetapkan Allah ﷻ, untuk apa lagi manusia harus bersusah payah berusaha?

Di sinilah Islam menawarkan cara pandang yang sangat utuh. Islam tidak mempertentangkan takdir dengan ikhtiar, sebagaimana juga tidak mempertentangkan langit dengan Bumi. Keduanya justru saling melengkapi.

Islam mengajarkan bahwa setiap makhluk telah dijamin rezekinya oleh Allah ﷻ. Al-Qur'an menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk di Bumi melainkan Allah ﷻ yang menanggung rezekinya.

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa sejak manusia masih berada dalam kandungan, telah ditetapkan rezeki, ajal, dan amalnya. Bahkan, 50.000 tahun sebelum seorang anak Adam lahir, perjalanan hidupnya sudah tertulis nyata dalam kitab lauhul mahfuz.

Namun, jaminan ini bukan berarti rezeki turun tanpa sebab.

Allah ﷻ menjamin hasilnya, tetapi memerintahkan manusia menempuh jalannya.

Inilah yang sering terlupakan, bahwa ‘rezeki sudah pasti dijamin, tetapi jalannya harus ditempuh.’

Seekor burung tidak bangun pagi lalu menunggu makanan jatuh ke sarangnya. Ia mengepakkan sayap, terbang mencari makan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, lalu pulang dalam keadaan kenyang.

Rasulullah ﷺ menjadikan burung sebagai gambaran tawakal yang benar: berangkat pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.

Burung itu bertawakal; tapi ia juga terbang.

Begitulah sunnatullah bekerja.

Sayangnya, salah satu kekeliruan yang paling sering terjadi adalah memahami tawakal sebagai sikap pasrah tanpa usaha.

Padahal Rasulullah ﷺ pernah memberi nasihat yang sangat sederhana tetapi mendalam kepada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat.

"Ikatlah terlebih dahulu untamu, kemudian bertawakallah."

Kalimat singkat itu merangkum filosofi kehidupan seorang Muslim.

Allah ﷻ memerintahkan manusia menggunakan akal, tenaga, ilmu, dan kesempatan yang diberikan-Nya. Setelah seluruh sebab ditempuh dengan sungguh-sungguh, barulah hasilnya diserahkan kepada Allah ﷻ.

Karena itu, tawakal bukanlah lawan dari ikhtiar.

Tawakal adalah penyempurna ikhtiar.

Di sinilah muncul kesalahpahaman lain yang cukup sering terjadi, bahwa makin rajin beribadah, makin cepat pula datang kekayaan.

Padahal Al-Qur'an tidak pernah menjanjikan rumus sesederhana itu.

Allah memang menjanjikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa. Namun janji itu bukan berarti setiap orang saleh pasti hidup bergelimang harta.

Lihatlah para nabi.

Nabi Sulaiman 'alaihissalam dianugerahi kerajaan yang sangat besar. Sebaliknya, Nabi Ayyub 'alaihissalam diuji dengan sakit dan kesempitan yang panjang.

Rasulullah ﷺ sendiri memilih kehidupan yang sederhana meskipun beliau adalah manusia paling mulia.

Semua itu menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah banyaknya harta.

Lalu apa hubungan ibadah dengan rezeki?

Hubungannya sering kali tidak langsung terlihat pada jumlah harta, melainkan pada pembentukan karakter.

Ibadah melatih kejujuran.

Ibadah membentuk disiplin.

Ibadah menumbuhkan kesabaran.

Ibadah mengajarkan amanah.

Karakter-karakter inilah yang dalam jangka panjang menjadi fondasi bagi kehidupan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.

Islam memiliki satu keunikan yang sering terlewat dalam pembahasan tentang rezeki.

Islam tidak hanya mengajarkan hukum syar'iyyah—aturan yang bersumber dari wahyu—tetapi juga mengakui hukum kauniyyah, yaitu hukum sebab-akibat yang Allah ﷻ tetapkan di alam semesta.

Air mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Benih yang ditanam harus dirawat supaya tumbuh.

Ilmu yang dipelajari akan meningkatkan kemampuan.

Kepercayaan yang dijaga akan melahirkan reputasi.

Semua itu adalah bagian dari sunnatullah.

Karena itulah Al-Qur'an berulang kali memerintahkan manusia berjalan di muka Bumi, memperhatikan kehidupan, bekerja, berdagang, dan memanfaatkan karunia Allah ﷻ.

Iman tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan hukum sebab-akibat. Iman justru menjadi kompas yang mengarahkan bagaimana manusia menjalankan hukum sebab-akibat itu.

Jika agama dipisahkan dari pemahaman terhadap sunnatullah, lahirlah masyarakat yang saleh secara ritual tetapi lemah secara ekonomi, teknologi, dan tata kelola.

Sebaliknya, jika hukum sebab-akibat dijalankan tanpa nilai-nilai agama, kemajuan mudah kehilangan arah moral.

Islam menghendaki keduanya berjalan bersama.

Prinsip ini tidak hanya berlaku bagi individu, tapi juga bagi umat.

Sering kali kita berharap kesejahteraan umat datang hanya melalui doa, bantuan pemerintah, atau lembaga tertentu. Di sisi lain, ada pula yang bekerja keras sendiri-sendiri tanpa membangun kolaborasi.

Padahal sejarah Islam menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi umat selalu lahir dari sinergi.

Zakat, misalnya – bukanlah sekadar santunan, tetapi instrumen pemberdayaan.

Infak juga bukan hanya berbagi, tetapi membangun solidaritas sosial.

Wakaf bukan sekadar amal jariyah, tetapi investasi peradaban yang manfaatnya bisa bertahan hingga ribuan tahun.

Demikian pula koperasi syariah, BMT (Baitul Maal wat Tamwil), kas masjid, hingga berbagai lembaga ekonomi umat. Semua itu bukan tujuan akhir, melainkan ikhtiar kolektif agar potensi umat tidak berhenti sebagai angka, tetapi berubah menjadi kesejahteraan yang nyata.

Karena itu, yang perlu dibangun bukan hanya semangat berbagi, tetapi juga tata kelola yang profesional, transparan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Semangat tanpa sistem sering kali cepat padam.

Sebaliknya, sistem yang baik mampu mengubah semangat menjadi gerakan yang berkelanjutan.

Barangkali di sinilah letak menawannya ajaran Islam.

Islam tidak pernah meminta manusia memilih antara doa atau usaha; antara masjid atau pasar; antara tawakal atau kerja keras.

Islam justru mengajarkan bahwa semuanya harus berjalan beriringan.

Langit mengajarkan manusia untuk berdoa; Bumi mengajarkan manusia untuk bekerja.

Dan keduanya bertemu dalam satu keyakinan bahwa setiap ikhtiar adalah bagian dari ibadah, selama dijalankan dengan cara yang halal dan penuh amanah.

Mungkin karena itulah burung tetap terbang setiap pagi meskipun rezekinya telah dijamin Allah ﷻ.

Ia tidak mempertentangkan tawakal dengan ikhtiar, justru menjalankan keduanya.

Selesai

Penulis: Daday Hidayat, Lc.

Bagikan

Komentar

Berita Terkait