
Wabah Ebola meluas cepat di RD Kongo, menyebar ke Uganda

Tenaga kesehatan mengenakan baju hazmat sebelum melakukan pekerjaan disinfeksi di Mongbwalu, Provinsi Ituri, Republik Demokratik (RD) Kongo, pada 24 Mei 2026. (Xinhua)
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – Wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo menyebar dengan cepat, ditandai dengan meningkatnya jumlah kasus, penyebaran geografis yang kian meluas, serta penularan lintas perbatasan ke Uganda, demikian disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (8/6).
Dalam informasi terbarunya, WHO saat ini menilai risiko wabah tersebut sangat tinggi untuk RD Kongo, tinggi untuk Uganda dan negara-negara tetangga yang berbatasan darat dengan wilayah-wilayah terdampak, serta rendah untuk wilayah Afrika lainnya dan dunia.
Hingga Ahad (7/6), RD Kongo telah melaporkan 515 kasus terkonfirmasi, termasuk 91 kematian. Sementara itu, Uganda telah melaporkan 19 kasus terkonfirmasi, termasuk dua kematian dan satu kasus kematian yang diduga kuat terkait dengan Ebola (probable fatal case).
Semua kasus di Uganda masih memiliki keterkaitan secara epidemiologis dengan wabah yang terjadi di RD Kongo, dengan bukti adanya infeksi impor serta penularan sekunder (secondary transmission) di antara kontak dan tenaga kesehatan.
Otoritas-otoritas nasional, yang bekerja sama dengan WHO dan para mitra, sedang menerapkan serangkaian langkah tanggap darurat. Pada 5 Juni, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Afrika CDC) Afrika dan WHO meluncurkan rencana kesiapsiagaan dan tanggap darurat Ebola bersama tingkat benua, dengan target pendanaan sebesar 518 juta dolar AS untuk mendukung negara-negara Afrika dalam mempersiapkan diri, mendeteksi, dan menanggapi wabah tersebut.
*1 dolar AS = 18.039 rupiah
Wabah ini melibatkan penyakit virus Bundibugyo (Bundibugyo virus disease/BVD), suatu bentuk penyakit Ebola yang parah dan sering kali fatal. Virus tersebut diyakini berasal dari kelelawar pemakan buah dan dapat menyebar melalui kontak dekat dengan darah atau sekresi hewan yang terinfeksi maupun cairan tubuh orang yang terinfeksi.
Masa inkubasi BVD berkisar antara dua hingga 21 hari, dan individu yang terinfeksi tidak menularkan penyakit tersebut hingga gejala muncul.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Kementerian kesehatan Jepang setujui obat oral buatan Pfizer
Indonesia
•
11 Feb 2022

Presiden Iran desak jaminan perjanjian nuklir dan penutupan penyelidikan IAEA
Indonesia
•
21 Sep 2022

781 tewas dan 2.502 lainnya masih hilang akibat tanah longsor di Nepal
Indonesia
•
31 Aug 2026

Hamas konfirmasi kematian komandan senior dalam serangan Israel
Indonesia
•
16 Dec 2025


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
