
Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi

Roket Space Launch System NASA yang membawa wahana antariksa Orion lepas landas dalam uji penerbangan Artemis I di Kennedy Space Center milik NASA di Florida, Amerika Serikat, pada 16 November 2022. (Xinhua/NASA/Keegan Barber)
Van Allen Probe A dan Van Allen Probe B dirancang untuk mempelajari sabuk radiasi Van Allen, cincin partikel bermuatan yang terperangkap oleh medan magnet Bumi yang melindungi planet ini dari radiasi kosmik berbahaya dan badai matahari.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah wahana antariksa NASA kembali memasuki atmosfer Bumi pada Rabu (11/3) pagi, beberapa tahun lebih awal dari perkiraan, menurut badan antariksa Amerika Serikat (AS) itu.
Wahana antariksa Van Allen Probe A kembali memasuki atmosfer Bumi pada Rabu pukul 06.37 Eastern Time (17.37 WIB), hampir 14 tahun setelah peluncurannya pada Agustus 2012, menurut NASA.
Wahana ini, bersama dengan kembarannya, Van Allen Probe B, dirancang untuk mempelajari sabuk radiasi Van Allen, cincin partikel bermuatan yang terperangkap oleh medan magnet Bumi yang melindungi planet ini dari radiasi kosmik berbahaya dan badai matahari.
Angkatan Antariksa AS mengonfirmasi bahwa Van Allen Probe A kembali memasuki atmosfer di daerah Samudra Pasifik bagian timur, di sekitar 2 derajat lintang selatan dan 255,3 derajat bujur timur.
Menurut NASA, sebagian besar badan wahana tersebut diperkirakan akan terbakar saat melintasi atmosfer, meskipun beberapa komponen mungkin selamat.
Kedua wahana Van Allen itu beroperasi dari tahun 2012 hingga 2019 dan mengumpulkan data yang belum pernah diperoleh sebelumnya tentang sabuk radiasi Bumi. Selama misi tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa sebuah sabuk radiasi ketiga yang bersifat transien dapat terbentuk selama periode aktivitas matahari yang intens.
Ketika misi berakhir pada 2019, setelah kedua wahana antariksa kembar itu kehabisan bahan bakar, para ilmuwan memperkirakan keduanya akan kembali memasuki atmosfer Bumi pada 2034. Namun, aktivitas matahari yang lebih kuat dari perkiraan selama siklus matahari saat ini meningkatkan hambatan atmosfer, mempercepat peluruhan orbit wahana antariksa dan menyebabkan wahana tersebut kembali ke atmosfer lebih cepat dari perkiraan.
Data dari misi tersebut terus membantu meningkatkan pemahaman tentang cuaca antariksa dan dampaknya terhadap satelit, astronaut, dan sistem teknologi di Bumi seperti komunikasi, navigasi, dan jaringan listrik, papar NASA.
NASA mengatakan wahana Van Allen Probe B diperkirakan tidak akan kembali sebelum tahun 2030.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China temukan bahan kimia untuk perangi ‘superbug’
Indonesia
•
24 Dec 2021

Studi: X-ray dengan kecerdasan buatan bisa deteksi kanker paru-paru
Indonesia
•
14 Feb 2023

Sisa-sisa rumah berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Mongolia Dalam, China
Indonesia
•
22 Dec 2023

Inti dalam yang padat di Mars beri petunjuk sejarah evolusi medan magnet
Indonesia
•
07 Sep 2025


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

AI berisiko sebabkan ‘kemalasan intelektual’ siswa
Indonesia
•
11 Mar 2026
