
Fokus Berita – Misi Chang'e-6 tunjukkan tekad China dalam jalankan kerja sama antariksa internasional

Gambar animasi video yang ditampilkan di Pusat Kendali Antariksa Beijing (Beijing Aerospace Control Center/BACC) pada 6 Juni 2024 ini menunjukkan wahana pendaki (ascender) Chang'e-6 milik China yang melakukan pertemuan (rendezvous) dan penambatan (docking) dengan kombinasi pengorbit (orbiter)-pembawa pulang (returner) Chang'e-6 di orbit Bulan. (Xinhua/Jin Liwang)
Wahana Chang'e-6 milik China akan memberikan para ilmuwan kesempatan yang unik untuk memahami lebih dalam tentang sejarah evolusi bulan, dan bahkan mungkin juga asal-usul tata surya kita.
Beijing, China (Xinhua) – Wahana Chang'e-6 milik China, yang membawa harapan para ilmuwan di seluruh dunia, saat ini sedang berada di orbit mengitari Bulan, menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke Bumi.Jika semuanya berjalan dengan baik, Chang'e-6 akan memungkinkan China untuk mengambil sampel dari sisi jauh Bulan yang pertama dalam sejarah manusia. Sebelum kembalinya wahana tersebut, China berjanji akan menyediakan sampel-sampel tersebut bagi para peneliti internasional, sebuah komitmen yang ditegaskan oleh aksi dan janji-janjinya yang konsisten.Dengan sampel berharga tersebut, Chang'e-6 akan memberikan para ilmuwan kesempatan yang unik untuk memahami lebih dalam tentang sejarah evolusi bulan, dan bahkan mungkin juga asal-usul tata surya kita.Mengingat langkanya kesempatan ini, China merasa memiliki kewajiban yang lebih besar untuk membagikannya, karena rakyat China percaya bahwa jika kita memberikan mawar ke tangan orang lain, wanginya juga akan melekat di tangan kita.Chang'e-6 menjadi bukti konsistensi China dalam mempromosikan kerja sama internasional di bidang eksplorasi antariksa.Wahana antariksa tersebut mengangkut empat muatan internasional. Para ilmuwan asing yang diundang untuk menyaksikan peluncuran dan pendaratan di Bulan dengan instrumen mereka di atas Chang'e-6 mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada China. Josef Aschbacher, Direktur Jenderal Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA), juga menyatakan rasa terima kasihnya lewat sebuah unggahan di sosial media X, dan menyebutkan bahwa ESA bangga bisa menjadi bagian dari misi itu.China telah menjadi pendukung yang kuat dari kerja sama antariksa dengan Eropa, yang mencakup berbagai proyek dari misi Bulan hingga pengembangan satelit ilmiah dan pelatihan astronaut. Namun, terdapat kekhawatiran yang meningkat di kalangan para pejabat dan ilmuwan Eropa bahwa kerja sama semacam itu akan terganggu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik.Menurut Karl Bergquist, administrator hubungan Eropa dan eksternal ESA, ESA sedang menghadapi lebih banyak pembatasan dalam kerja sama antariksa dengan China, karena ESA menggunakan banyak komponen Amerika Serikat (AS), tetapi tidak dapat melakukan ekspor karena adanya larangan dari AS.Jelas tidak mungkin bagi negara-negara Eropa untuk sepenuhnya menghindari penggunaan komponen AS. Sebenarnya, esensi kerja sama terletak pada penggabungan kebijaksanaan berbagai negara untuk bersama-sama menjelajahi luar angkasa.Sangat disayangkan, Amerika Serikat (AS), yang pernah terlibat dalam perlombaan antariksa yang sengit dengan Uni Soviet, terus menganggap luar angkasa sebagai panggung untuk menunjukkan kekuatannya. AS telah memberlakukan pembatasan kerja sama dengan China dalam teknologi dan eksplorasi antariksa, serta memperluas larangan tersebut kepada sekutu-sekutunya.Alhasil, China mengejar pendekatan mandiri dan berkembang sendiri dalam upaya antariksanya, dan telah mencapai kemajuan luar biasa dalam hal ini. Namun, bahkan di bawah berbagai tantangan terberat sekalipun, China selalu percaya bahwa eksplorasi antariksa bukanlah kompetisi menang-kalah dan membutuhkan kebijaksanaan serta upaya kolektif yang melampaui batas-batas di Bumi.Dianggap sebagai salah satu mitra paling andal saat ini oleh para ilmuwan Eropa yang berpartisipasi dalam misi Chang'e-6, China akan terus membangun jembatan kerja sama dan memungkinkan lebih banyak negara untuk menjelajahi garis depan baru bulan dan luar angkasa.China berulang kali menyatakan bahwa pihaknya tetap terbuka untuk kerja sama antariksa dengan AS. Pertanyaannya adalah apakah otoritas AS akan mengindahkan seruan dari para ilmuwan mereka sendiri dan komunitas ilmiah global untuk berhenti menghalangi upaya mulia tersebut untuk mencapai kemajuan kolektif dalam bidang sains dan pengetahuan.Seperti yang disebutkan oleh Neil Melville-Kenney, petugas teknis instrumen ESA di Chang'e-6, eksplorasi antariksa mendorong kita untuk menganggap planet Bumi sebagai satu kesatuan dan manusia sebagai satu kesatuan. Semakin erat kita bekerja sama, semakin besar pencapaian yang dapat kita raih.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Enam patung kuno ditemukan di taman arkeologi Angkor, Kamboja
Indonesia
•
23 Dec 2023

Model AI SpecCLIP mampu proses data bintang dari berbagai teleskop
Indonesia
•
27 Feb 2026

Aplikasi berbasis AI Ide-Cabe mampu identifikasi varietas cabai berkualitas tinggi
Indonesia
•
25 Jan 2025

Fokus Berita – Robot humanoid China kian maju dengan interaksi emosional yang disempurnakan
Indonesia
•
27 Aug 2024


Berita Terbaru

Peneliti China kembangkan baterai lithium-sulfur baru untuk bantu ‘drone’ terbang lebih jauh
Indonesia
•
12 May 2026

Aplikasi AI Libra dukung aktivitas korporasi dan bisnis
Indonesia
•
12 May 2026

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026
