
WHO sebut hantavirus mematikan di kapal pesiar kemungkinan ditularkan antarmanusia

Foto yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 21 Februari 2026 ini menunjukkan para wisatawan menaiki 'yacht' di Sanya, Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua/Zhao Yingquan)
Penularan hantavirus antarmanusia tergolong jarang terjadi, tetapi penyebaran terbatas pernah dilaporkan di antara kontak dekat pada wabah sebelumnya dari virus Andes, yang merupakan bagian dari kelompok hantavirus.
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – Para korban hantavirus di kapal Hundius di Samudra Atlantik kemungkinan telah terinfeksi sebelum naik ke kapal pesiar tersebut, dan penularan antarmanusia di atas kapal tidak dapat dikesampingkan, demikian pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (5/5).
Badan itu menerima laporan wabah hantavirus di kapal Hundius pada 2 Mei. Tujuh orang dari total 147 penumpang dan awak kapal dilaporkan sakit dan tiga di antaranya meninggal dunia. Situasinya masih terus berubah, kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO Maria Van Kerkhove kepada awak media di Jenewa.
"Satu pasien berada di unit perawatan intensif di Afrika Selatan, meski kami memahami bahwa kondisi pasien tersebut membaik," ujarnya, seraya menambahkan bahwa dua pasien lainnya, yang masih berada di kapal, sedang dipersiapkan untuk evakuasi medis ke Belanda guna mendapatkan perawatan.
Van Kerkhove menekankan bahwa situasi ini terus dipantau secara ketat. Sebagai langkah pencegahan, para penumpang diminta untuk tetap berada di kabin mereka, sementara proses disinfeksi dan langkah-langkah kesehatan masyarakat lainnya dilakukan.
"Rencananya, dan prioritas utama kami adalah mengevakuasi secara medis kedua individu tersebut" untuk memastikan mereka mendapatkan perawatan yang diperlukan, dan tidak ada pasien lain yang menunjukkan gejala di atas kapal, ungkapnya.
Kapal tersebut dijadwalkan akan melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Canary, Spanyol, dan WHO bekerja sama dengan otoritas Spanyol "untuk melakukan penyelidikan epidemiologis secara menyeluruh serta disinfeksi penuh terhadap kapal itu," tambahnya.
Hantavirus dibawa oleh hewan pengerat dan dapat menyebabkan penyakit parah pada manusia. Diperkirakan ribuan kasus infeksi terjadi setiap tahun. Orang-orang biasanya terinfeksi melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi atau urine, kotoran, atau air liurnya.
Terkait dugaan asal-usul virus tersebut, Van Kerkhove mengatakan pasien awal, sepasang suami istri, naik ke kapal di Argentina.
"Dengan mempertimbangkan masa inkubasi hantavirus yang bisa berkisar antara satu hingga enam pekan, asumsi kami adalah mereka terinfeksi di luar kapal," ujarnya.
"Kami meyakini kemungkinan ada penularan antarmanusia yang terjadi di antara kontak yang sangat dekat", seperti pasangan suami istri dan orang lain yang berbagi kabin, sebutnya.
Menurut WHO, penularan hantavirus antarmanusia tergolong jarang terjadi, tetapi penyebaran terbatas pernah dilaporkan di antara kontak dekat pada wabah sebelumnya dari virus Andes, yang merupakan bagian dari kelompok hantavirus.
Tidak ada pengobatan khusus untuk hantavirus selain perawatan suportif. "Biasanya, orang akan mengalami gejala pernapasan, sehingga dukungan pernapasan sangat penting," imbuh Van Kerkhove.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim China bantu selamatkan korban terjebak reruntuhan di Turkiye
Indonesia
•
12 Feb 2023

Arab Saudi tangkap warganya karena bantu wartawan non-Muslim masuk Makkah
Indonesia
•
22 Jul 2022

Penelitian sebut 99 persen kasus cacar monyet di AS menimpa kaum pria
Indonesia
•
10 Aug 2022

NYT: Keamanan jadi strategi marketing di sekolah AS atas kekerasan senjata
Indonesia
•
22 Feb 2023


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
