
Lingkungan ekologis Taman Nasional Sanjiangyuan China terus meningkat

Foto yang diabadikan pada 12 Maret 2022 ini menunjukkan pemandangan Danau Gyaring di kawasan sumber Sungai Kuning Taman Nasional Sanjiangyuan di Provinsi Qinghai, China barat laut. (Xinhua/Lyu Xueli)
Wilayah Sanjiangyuan di Provinsi Qinghai, China barat laut, merupakan representasi khas ekosistem dataran tinggi dan berfungsi sebagai bank plasma nutfah biologis pegunungan, menjadikannya benteng keamanan ekologis yang penting di China.
Xining, China (Xinhua) – Lingkungan ekologis di Taman Nasional Sanjiangyuan di Provinsi Qinghai, China barat laut, terus menunjukkan peningkatan sejak penetapan area tersebut sebagai taman nasional pada 2021, dengan kapasitas konservasi air meningkat lebih dari 6 persen setiap tahun, menurut laporan tentang perkembangan taman nasional itu yang dirilis baru-baru ini.Taman nasional ini menyalurkan lebih dari 60 miliar meter kubik air tawar berkualitas tinggi ke hilir setiap tahun, dan cakupan padang rumput serta hasil rumput di taman tersebut masing-masing meningkat lebih dari 11 persen dan 30 persen, menurut laporan itu.Terletak di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, wilayah Sanjiangyuan berfungsi sebagai hulu sungai Yangtze, Kuning dan Lancang, serta dikenal sebagai ‘Menara Air Asia’.Pada 2021, Taman Nasional Sanjiangyuan, bersama dengan empat taman lainnya, secara resmi ditetapkan sebagai taman nasional gelombang pertama di China. Taman ini memiliki luas total 190.700 km persegi, dengan ketinggian rata-rata mencapai lebih dari 4.700 meter.Menurut Losang Tsering, kepala insinyur Administrasi Taman Nasional Sanjiangyuan, taman ini memprioritaskan restorasi ekologis selama bertahun-tahun, dengan fokus pada berbagai ekosistem seperti gletser dan pegunungan yang tertutup salju, lahan rumput dan padang rumput dataran tinggi, lahan basah pegunungan, hutan dan semak, dan merupakan habitat bagi margasatwa langka dan terancam punah.Upaya restorasi ini telah membuahkan sejumlah pencapaian penting, di antaranya 195.000 mu (13.000 hektare) padang rumput yang terdegradasi telah dipulihkan dan 110.000 mu (7.333 hektare) lahan telah menjalani perawatan untuk pengendalian penggurunan. Populasi kijang Tibet terus bertambah dari semula kurang dari 20.000 ekor menjadi lebih dari 70.000 ekor, kata kepala insinyur tersebut.Wilayah Sanjiangyuan merupakan representasi khas ekosistem dataran tinggi dan berfungsi sebagai bank plasma nutfah biologis pegunungan, menjadikannya benteng keamanan ekologis yang penting di China.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Rick
13 Feb 2026
As a travel specialist deeply focused on the Tibetan Plateau and Sichuan regions, it is heartening to see such significant ecological progress in the Sanjiangyuan National Park. Known as the 'Water Tower of Asia,' this region is not just a scenic wonder but a vital life source for billions downstream. The report's data is truly impressive—especially the recovery of the Tibetan antelope population, which has grown from less than 20,000 to over 70,000. For our guests at kiki holidays, witnessing this kind of 'biological germplasm bank' and the restored alpine grasslands at an average altitude of 4,700 meters is a profound experience. Protecting these 'Water Towers' is essential for the future of sustainable tourism in China.
Berita Terkait

Peneliti ingatkan risiko ‘sinkhole’ pada permukiman di atas lapisan batugamping
Indonesia
•
16 Jan 2026

Feature – Di ujung harapan, teknologi AI China berikan harapan bagi pasien pankreas Indonesia
Indonesia
•
05 Mar 2026

Obat diabetes Ozempic sedang diuji untuk pengobatan Alzheimer
Indonesia
•
09 May 2023

China memulai sensus sumber daya data
Indonesia
•
21 Feb 2024


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
