Aktivis AS berencana gelar aksi protes kedua, tuntut agen federal hengkang dari Minnesota

Orang-orang mengikuti aksi protes di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat (AS), pada 23 Januari 2026. Para pengunjuk rasa turun ke jalan pada Jumat (23/1), memblokir jalan menuju bandara, menutup ratusan tempat usaha, dan menggelar apa yang digambarkan oleh pihak penyelenggara sebagai salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah Minnesota untuk menuntut penarikan Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (Immigration and Customs Enforcement/ICE) AS. (Xinhua)
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Berbagai organisasi masyarakat dan kelompok buruh di Amerika Serikat (AS) sedang mempersiapkan Hari Aksi Nasional (National Day of Action) kedua pada Sabtu (31/1) mendatang untuk menuntut penarikan agen imigrasi federal dari Negara Bagian Minnesota.
Mobilisasi yang direncanakan tersebut merupakan kelanjutan dari aksi protes besar-besaran pada 23 Januari lalu.
Menurut sebuah pernyataan yang diunggah oleh Gerakan 50501 (50501 Movement), aksi protes yang akan datang itu telah didukung secara resmi oleh ratusan kelompok di seluruh negeri.
Para penyelenggara menuntut agar Kongres AS membekukan pendanaan federal untuk Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (Immigration and Customs Enforcement/ICE). Selain itu, mereka juga menuntut pertanggungjawaban atas kematian Renee Good dan Alex Pretti. Good adalah seorang pengamat masyarakat yang tewas pada 7 Januari, sementara Pretti merupakan seorang perawat unit perawatan intensif (ICU) yang ditembak mati pada 24 Januari lalu.
"Setiap hari, ICE, Patroli Perbatasan, dan penegak agenda rasis Trump lainnya memasuki komunitas kami untuk menculik tetangga kami serta menebar ketakutan. Sudah saatnya bagi kami semua untuk bangkit bersama dalam aksi mogok nasional (nationwide shutdown) dan menyatakan semua ini harus dihentikan," bunyi pernyataan tersebut.
Hari pertama aksi pada 23 Januari lalu mencatatkan estimasi 50.000 hingga 75.000 orang yang berunjuk rasa di pusat kota Minneapolis. Aksi ini berlangsung meskipun suhu udara mencapai minus 23 derajat Celsius, dengan sensasi dingin (windchill) mencapai minus 40 derajat Celsius. Laporan media lokal menyebutkan bahwa lebih dari 700 usaha kecil turut menutup gerai mereka sebagai dukungan terhadap aksi mogok tersebut.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri dan Mobilitas Manusia Ekuador pada Selasa (27/1) mengatakan seorang petugas dari Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (Immigration and Customs Enforcement/ICE) Amerika Serikat (AS) berupaya memasuki konsulat Ekuador di Minneapolis sebelumnya pada hari itu, memicu Ekuador menyampaikan nota protes kepada AS.
Menurut pernyataan resmi, Konsul Ekuador di Minneapolis melaporkan bahwa sekitar pukul 11.00 waktu setempat, seorang agen ICE berusaha untuk memasuki area konsulat. Staf konsulat segera mencegah petugas tersebut masuk ke fasilitas itu dan mengaktifkan protokol darurat untuk memastikan keselamatan warga Ekuador yang berada di dalam konsulat.
Disebutkan pula bahwa menteri luar negeri Ekuador langsung mengajukan nota protes kepada Kedutaan Besar AS di Ekuador, meminta agar tindakan serupa tidak terulang di kantor-kantor konsulat Ekuador mana pun di AS.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Sekjen PBB ungkap kekhawatiran terkait RUU Israel tentang badan bantuan PBB
Indonesia
•
11 Oct 2024

Israel intensifkan serangan di Gaza di tengah perundingan gencatan senjata, tewaskan sedikitnya 40 orang
Indonesia
•
16 Jan 2025

Uni Afrika tuntut militer Niger pulihkan otoritas konstitusional dalam waktu 15 hari
Indonesia
•
31 Jul 2023

Sistem pertahanan Iran akan diperkuat jet tempur Sukhoi Su-35 pada Maret
Indonesia
•
16 Jan 2023
Berita Terbaru

Nilai mata uang Iran anjlok ke level terendah dalam sejarah di tengah tekanan ekonomi
Indonesia
•
29 Jan 2026

Badan Pangan PBB akan hentikan operasi di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi, akhiri kontrak 360 pegawai
Indonesia
•
29 Jan 2026

Swedia luncurkan program baru untuk tekan kekerasan laki-laki terhadap perempuan
Indonesia
•
29 Jan 2026

PBB sebut situasi kemanusiaan di Gaza masih sangat kritis meski bantuan meningkat
Indonesia
•
28 Jan 2026
