Studi ungkap dampak sosial merekam dengan ponsel saat acara berlangsung

Aktivitas mendokumentasikan pertunjukan

Ilustrasi. (Chirayu Trivedi on Unsplash)

Aktivitas mendokumentasikan pertunjukan dapat memberi manfaat bagi pelakunya, seperti membantu mengingat momen dengan lebih baik.

Jakarta (Indonesia Window) – Mengambil foto atau merekam video saat sebuah acara tengah berlangsung – misalnya konser musik, pertunjukan di bioskop, stand-up comedy – telah menjadi kelaziman di tengah masyarakat.

Perilaku yang dikenal sebagai documenting ini menjadi fokus dari studi terbaru University of Oregon Amerika Serikat (AS).

Para peneliti menemukan bahwa kebiasaan tersebut dapat menimbulkan “dampak sosial”, bahkan berpotensi memengaruhi hubungan pertemanan.

Dalam serangkaian eksperimen yang dilakukan bersama peneliti dari DePaul University dan Vanderbilt University, Freeman Wu, dosen di Lundquist College of Business, University of Oregon, menemukan bahwa orang yang terlihat sibuk mengambil foto atau merekam video saat acara langsung kerap dipersepsikan kurang terlibat menikmati pengalaman tersebut. Para pengamat juga menyatakan cenderung enggan mengajak kembali teman yang kerap menggunakan ponsel untuk merekam acara ke kegiatan serupa di masa mendatang.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam Journal of the Association for Consumer Research.

Menariknya, sejumlah penelitian sebelumnya justru menunjukkan bahwa aktivitas mendokumentasikan acara dapat memberi manfaat bagi pelakunya, seperti membantu mengingat momen dengan lebih baik.

“Sebagai pengamat perilaku manusia, saya bertanya-tanya apakah ceritanya hanya sampai di situ,” ujar Wu. “Kita tahu merekam acara bisa meningkatkan kenikmatan pribadi, tetapi saya ingin mengetahui apakah kebiasaan ini juga bisa menimbulkan konsekuensi sosial yang negatif.”

Penelitian ini bermula dari analisis komentar warganet pada sebuah artikel The New York Times tentang penonton yang mengambil foto di konser. Lebih dari tiga perempat komentar bernada negatif terhadap para documenter. Banyak di antaranya menilai perilaku tersebut membuat pelakunya tampak tidak fokus pada pertunjukan dan mengganggu penonton lain.

“Keputusan yang tampak sepele ini ternyata bisa membawa dampak sosial yang tidak terduga,” kata Wu, yang meneliti interaksi antara konsumen dan teknologi.

Para peneliti kemudian melakukan serangkaian eksperimen daring untuk menggali lebih jauh. Mereka menduga persepsi negatif muncul karena gangguan layar ponsel di sekitar penonton. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa jarak antara pengamat dan orang yang merekam tidak memengaruhi penilaian sosial. Persepsi tersebut juga tidak bergantung pada jenis perangkat, baik kamera digital maupun ponsel pintar memunculkan penilaian sosial yang serupa.

Wu mengakui dirinya juga pernah mengambil foto saat menonton konser. Menurutnya, seiring makin jamaknya kebiasaan ini, para musisi dan penyelenggara acara pun merespons dengan beragam cara.

“Realitanya, hampir semua orang membawa ponsel. Sulit menghentikan kebiasaan ini kecuali dengan langkah-langkah ekstrem,” ujarnya.

Langkah ekstrem tersebut, misalnya, mewajibkan penonton menyimpan ponsel dalam kantong khusus yang hanya bisa dibuka oleh petugas. Sebagian artis memilih mengizinkan penonton merekam sebagian kecil pertunjukan, lalu meminta ponsel disimpan kembali. Ada pula yang secara langsung menegur penonton yang terus merekam.

“Ini bukan soal boleh atau tidak sama sekali,” kata Wu. “Bukan berarti Anda tidak boleh mengambil foto. Yang penting adalah batasnya. Mengambil satu-dua foto di awal atau di tengah konser lalu menyimpan ponsel dan menikmati pertunjukan biasanya tidak menimbulkan dampak negatif, atau setidaknya tidak sebesar jika terus merekam.”

Wu menekankan bahwa documenting berbeda dengan phubbing, yaitu kebiasaan mengecek ponsel saat berada dalam pertemuan sosial.

“Kita selalu merasa punya alasan yang masuk akal untuk menggunakan ponsel, misalnya mengecek pesan. Namun kita sering meremehkan dampaknya,” ujarnya. “Saat berada di pesta atau makan bersama teman lalu sibuk dengan ponsel, orang lain bisa saja jadi kurang menyukai kita.”

Jika phubbing kerap dianggap sebagai tanda kebosanan atau ketidakterlibatan, documenting justru bisa mencerminkan rasa larut dalam momen. Meski demikian, temuan Wu menunjukkan adanya apa yang dia sebut sebagai “hukuman sosial” bagi perilaku mendokumentasikan acara secara berlebihan.

Pelajaran terpenting dari penelitian ini, kata Wu, adalah pentingnya kesadaran akan konteks sosial dalam penggunaan ponsel.

“Jangan meremehkan dampak dari keputusan-keputusan kecil yang tampak sepele dalam kehidupan sehari-hari kita,” pungkasnya.

Sumber: https://phys.org/news/2026-01-photos-events-social.html#goog_rewarded

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait