
Atasi tantangan daya tahan, ilmuwan di China lengkapi ‘drone’ dengan ‘jantung hidrogen’

Sebuah 'drone' melakukan operasi penerangan di sebuah perkebunan hutan di Kota Haicheng, Provinsi Liaoning, China timur laut, pada 6 Mei 2025. (Xinhua)
Susunan baterai baru untuk drone menggabungkan desain ringan, output berdaya tinggi, dan teknologi pendinginan udara, serta mampu meningkatkan ketahanan terbang drone kelas industri hingga dua kali lipat.
Dalian, China (Xinhua/Indonesia Window) – High-Specific-Power Cathode-Closed Air-Cooled Stack, sel bahan bakar yang dikembangkan oleh Institut Fisika Kimia Dalian (Dalian Institute of Chemical Physics/DICP) Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Science/CAS), telah lolos penilaian pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi.
Disebut sebagai ‘jantung hidrogen’ untuk drone kelas industri, susunan baterai (stack) baru ini menggabungkan desain ringan, output berdaya tinggi, dan teknologi pendinginan udara, serta mampu meningkatkan ketahanan terbang drone kelas industri hingga dua kali lipat.
Dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi ketinggian rendah (low-altitude economy), berbagai isu, termasuk keterbatasan waktu terbang baterai lithium konvensional dan beratnya bobot sistem sel bahan bakar saat ini, muncul sebagai kendala signifikan yang menghambat kemajuan industri drone.
Sebuah drone bertenaga hidrogen yang dilengkapi dengan susunan baterai baru ini berhasil menyelesaikan uji terbang pada Minggu (10/5) di Dalian, Provinsi Liaoning, China timur laut, menunjukkan kinerja yang sangat baik pada indikator-indikator utama. Susunan baterai berpendingin udara ini mencapai daya spesifik setinggi 1.970 watt per kilogram dan kepadatan daya area sebesar 1,15 watt per sentimeter persegi.
"Jantung hidrogen" ini telah mencapai transisi dari pengembangan laboratorium ke pengaplikasian skala besar, kata Chen Zhongwei, pemimpin teknis proyek dan direktur Laboratorium Kunci Negara untuk Katalisis di DICP.
Teknologi ini telah diterapkan dalam berbagai skenario termasuk kehutanan, pertanian, inspeksi jaringan listrik, dan misi tanggap darurat.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian: Lebah madu berasal dari Afrika, berevolusi di Asia
Indonesia
•
04 Dec 2021

China luncurkan satelit relai baru untuk komunikasi Bumi-Bulan
Indonesia
•
21 Mar 2024

Populasi gajah Afrika susut 70 persen dalam 50 tahun terakhir
Indonesia
•
16 Nov 2024

NASA akan bentuk tim ilmiah untuk pelajari UFO
Indonesia
•
10 Jun 2022


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
