
Australia mulai bangun teleskop radio paling kuat

Ilustrasi. (Stefan Widua on Unsplash)
Teleskop radio paling kuat di Australia dan jaringan piringan di Afrika Selatan akan membentuk Square Kilometer Array (SKA), yakni sebuah instrumen besar yang bertujuan untuk mengungkap misteri tentang penciptaan bintang, galaksi, dan kehidupan di luar bumi.
Jakarta (Indonesia Window) – Australia pada Senin mulai membangun jaringan antena yang luas di Outback, wilayah yang menurut para perencana pada akhirnya akan menjadi salah satu teleskop radio paling kuat di dunia.Outback adalah nama untuk wilayah yang mencakup sebagian besar Australia tengah, termasuk sebagian besar wilayah pedalaman New South Wales, Queensland, Australia Selatan, Australia Barat, dan Teritorial Utara.Saat pembangunan tersebut selesai, antena di Australia tersebut dan jaringan piringan di Afrika Selatan akan membentuk Square Kilometer Array (SKA), yakni sebuah instrumen besar yang bertujuan untuk mengungkap misteri tentang penciptaan bintang, galaksi, dan kehidupan di luar bumi.Gagasan untuk pembangunan teleskop radio paling kuat tersebut pertama kali dicetuskan pada awal 1990-an, tetapi proyek itu terhambat oleh waktu, masalah pendanaan, dan perebutan diplomatik.Direktur Jenderal Observatorium SKA Philip Diamond menggambarkan awal pembangunan ini sebagai “penting”. Teleskop “akan menjadi salah satu upaya ilmiah terbesar umat manusia,” katanya.Namanya didasarkan pada tujuan awal perencana, sebuah teleskop yang dapat mengamati permukaan seluas satu kilometer persegi, tetapi bagian Afrika Selatan dan Australia saat ini akan memiliki area pengumpulan gabungan di bawah setengahnya, menurut observatorium.Kedua negara memiliki hamparan tanah yang luas di daerah terpencil dengan sedikit gangguan radio, sehingga ideal untuk teleskop semacam itu.Lebih dari 130.000 antena berbentuk pohon Natal direncanakan dibangun di Australia Barat, di atas tanah tradisional suku Aborigin Wajarri.Mereka menjuluki situs itu "Inyarrimanha Ilgari Bundara", atau "berbagi langit dan bintang".“Kami menghormati kesediaan mereka untuk berbagi langit dan bintang dengan kami saat kami mencari jawaban atas beberapa pertanyaan sains paling mendasar yang kami hadapi,” kata Diamond.Sementara itu, situs di Afrika Selatan akan menampilkan hampir 200 piringan di wilayah terpencil Karoo, menurut Observatorium SKA.Perbandingan antarteleskop radio sulit karena beroperasi pada frekuensi yang berbeda, menurut perencana SKA.Tetapi, kata mereka, kedua situs tersebut akan memberi SKA sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan teleskop radio piringan tunggal karena susunannya tersebar, membentuk "piringan virtual" yang jauh lebih besar.Proyek ini akan membantu dalam "memetakan kelahiran dan kematian galaksi, mencari jenis gelombang gravitasi baru dan memperluas batas dari apa yang kita ketahui tentang alam semesta," kata direktur teleskop Sarah Pearce.Danny Price dari Curtin Institute of Radio Astronomy mengatakan, teleskop itu akan sangat kuat.“Untuk menempatkan kepekaan SKA ke dalam perspektif, SKA dapat mendeteksi ponsel di saku seorang astronot di Mars, 225 juta kilometer jauhnya,” katanya.Observatorium SKA, yang berkantor pusat di Jodrell Bank di Inggris, mengatakan, teleskop harus mulai melakukan pengamatan ilmiah pada akhir 2020-an.Organisasi ini memiliki 14 anggota, yakni Inggris, Australia, Afrika Selatan, Kanada, Cina, Prancis, Jerman, India, Italia, Selandia Baru, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Belanda.Sumber: AFP SidneyLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Material Metal-Organic Frameworks dinilai menjanjikan untuk terapi medis hingga energi terbarukan
Indonesia
•
16 Jan 2026

El Nino sangat kuat kini terjadi di Samudra Pasifik tropis, risiko cuaca kering meningkat
Indonesia
•
17 Jun 2026

Ilmuwan China sukses lakukan ‘satellite laser ranging’ siang hari di ruang angkasa Bumi-Bulan
Indonesia
•
01 May 2025

Studi terbaru ungkap anak-anak prasekolah di AS terpapar bahan kimia yang berpotensi bahaya
Indonesia
•
02 Jul 2025


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
