
Australia tidak akan kirim kapal angkatan laut ke Selat Hormuz

Foto yang diabadikan pada 28 Januari 2026 ini menunjukkan sebuah SPBU di Canberra, Australia. (Xinhua/Zhang Na)
Cadangan bahan bakar Australia tercatat di angka 37 hari untuk bensin, 30 hari untuk solar, dan 29 hari untuk bahan bakar jet setelah pemerintah menurunkan kewajiban kepemilikan stok minimum.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Australia tidak akan mengirim kapal angkatan laut untuk melindungi kapal tanker minyak di Selat Hormuz, demikian disampaikan seorang menteri senior pemerintah negara itu pada Senin (16/3).
Australia siap menghadapi "krisis ekonomi" yang dipicu oleh konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan tidak akan mengirim kapal perang ke kawasan tersebut, ujar Menteri Infrastruktur, Transportasi, Pembangunan Regional, dan Pemerintahan Daerah Australia Catherine King, yang juga merupakan anggota kabinet Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese, menurut laporan radio Australian Broadcasting Corporation (ABC).
King mengatakan bahwa cadangan bahan bakar Australia per Senin tercatat di angka 37 hari untuk bensin, 30 hari untuk solar, dan 29 hari untuk bahan bakar jet setelah pemerintah menurunkan kewajiban kepemilikan stok minimum serta untuk sementara mengubah standar kualitas bahan bakar guna memungkinkan kadar sulfur yang lebih tinggi.
"Kami sangat siap di negara ini untuk menghadapi krisis ekonomi yang terjadi sebagai dampak dari situasi di Timur Tengah," kata King.
Pemerintah federal pada Sabtu (14/3) juga mengeluarkan peringatan kepada warga negaranya agar tidak transit melalui Bahrain, Iran, Irak, Israel, Kuwait, Lebanon, Palestina, Qatar, Suriah, Yaman, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Sebelumnya, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (Department of Foreign Affairs and Trade/DFAT) Australia mengeluarkan peringatan perjalanan untuk semua negara tersebut melalui layanan Smartraveller. Namun pada Sabtu, DFAT menambahkan bahwa warga Australia juga sebaiknya menghindari transit melalui negara-negara tersebut, bahkan jika mereka tidak berencana meninggalkan bandara.
Menurut pernyataan tersebut, konflik kemungkinan akan semakin meningkat dan penerbangan dapat berubah atau bahkan dihentikan secara mendadak.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peningkatan jumlah penerbangan langsung dari China dongkrak industri pariwisata di Sulawesi Utara
Indonesia
•
11 Apr 2025

Merek EV dan skuter listrik China curi perhatian dalam pameran mobilitas listrik di Kamboja
Indonesia
•
12 Aug 2023

Presiden perintahkan pembenahan rantai pasokan garam rakyat
Indonesia
•
05 Oct 2020

ICAO perkirakan pemulihan pesat perjalanan udara pada 2023
Indonesia
•
09 Feb 2023


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
