
Jubir Kemenlu China beri penjelasan tentang interaksi China-AS

Perdana Menteri (PM) Belgia Alexander De Croo (kiri) bertemu dengan Wang Yi, Anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) sekaligus Direktur Kantor Komisi Urusan Luar Negeri Komite Sentral CPC, di sela-sela Konferensi Keamanan Munich (Munich Security Conference/MSC) ke-59 di Munich, Jerman, pada 18 Februari 2023. (Xinhua/Jin Mamengni)
Balon udara China yang ditembak jatuh oleh Amerika Serikat dengan rudal menunjukkan tindakan penyalahgunaan kekuatan dan pelanggaran terhadap praktik umum internasional dan Perjanjian Penerbangan Sipil Internasional.
Beijing, China (Xinhua) – Seorang juru bicara (jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China memberikan penjelasan tentang interaksi antara China dan Amerika Serikat (AS) pada Ahad (19/2).Jubir itu mengatakan bahwa atas permintaan pihak AS, Wang Yi, Direktur Kantor Komisi Urusan Luar Negeri Komite Sentral Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC), melakukan interaksi tidak resmi dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken di sela-sela Konferensi Keamanan Munich (Munich Security Conference/MSC).Wang, yang juga merupakan anggota Biro Politik Komite Sentral CPC, secara eksplisit menyatakan posisi resmi China terkait apa yang disebut sebagai insiden benda udara (balon) dan mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan pihak AS tampaknya merupakan tindakan penyalahgunaan kekuatan dan pelanggaran terhadap praktik umum internasional dan Perjanjian Penerbangan Sipil Internasional. China menyesalkan dan dengan tegas memprotes tindakan tersebut. AS-lah yang sebenarnya menjadi negara nomor satu dalam hal pengawasan, dengan balon altitudo tinggi (high altitude) miliknya beberapa kali terbang secara ilegal di atas langit China. AS tidak dalam posisi untuk memfitnah China.Apa yang perlu dilakukan AS adalah menunjukkan ketulusan, serta menerima dan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh tindakan penyalahgunaan kekuatan itu terhadap hubungan China-AS. Jika AS terus mendramatisasi, membesar-besarkan, atau mengeskalasi situasi, China pasti akan merespons dengan melakukan apa yang perlu dilakukan. Semua konsekuensi yang timbul dari tindakan itu akan ditanggung oleh pihak AS, kata Wang.Wang menekankan bahwa terkait masalah Ukraina, China berpegang pada prinsip dan tetap berkomitmen untuk mendorong pembicaraan damai, dan telah memainkan peran yang konstruktif. Kemitraan strategis komprehensif China-Rusia dalam hal koordinasi dibangun atas dasar prinsip nonaliansi, nonkonfrontasi, dan nonpenargetan terhadap negara ketiga, dan berada dalam hak kedaulatan dua negara merdeka."Kami tidak pernah menerima tudingan atau bahkan intimidasi AS yang menyasar hubungan China-Rusia," kata Wang, seraya menambahkan bahwa sebagai negara besar, AS seharusnya mengupayakan penyelesaian politik untuk krisis alih-alih memperburuk atau memanfaatkan situasi.Wang mengatakan bahwa untuk menjaga stabilitas di Selat Taiwan, "kemerdekaan Taiwan" harus ditentang dengan tegas dan prinsip Satu China harus dipatuhi secara kredibel. Mengenai masalah Taiwan, pihak AS perlu menghormati sejarah dan fakta, mematuhi komitmen politik, dan bertindak berdasarkan pernyataan "tidak mendukung kemerdekaan Taiwan."Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

FAA beri tenggat waktu 90 hari ke Boeing untuk tangani isu kualitas
Indonesia
•
29 Feb 2024

Rusia mundur dari Stasiun Luar Angkasa Internasional
Indonesia
•
02 May 2022

PM Israel sebut akan terus bertempur "hingga menang" meski ada upaya menuju gencatan senjata
Indonesia
•
22 Dec 2023

Hilang saat operasi penyitaan senjata Iran, 2 personel Navy SEAL AS dinyatakan tewas
Indonesia
•
23 Jan 2024


Berita Terbaru

AS intensifkan pengumpulan intelijen militer di lepas pantai Kuba
Indonesia
•
11 May 2026

Iran tolak proposal gencatan senjata AS, Trump sebut langkah itu "tidak dapat diterima"
Indonesia
•
11 May 2026

Para pemimpin ASEAN rilis pernyataan bersama soal krisis Timur Tengah di KTT ASEAN 2026
Indonesia
•
10 May 2026

AS-Iran kembali bentrok, AS tak ingin eskalasi
Indonesia
•
08 May 2026
