Bangsawan China kuno punya pola makan unik, tergantung gender dan pekerjaan

Seorang pengunjung mengamati sebuah benda pameran dalam pameran besar peninggalan budaya China dari Zaman Perunggu China yang digelar di San Francisco, California, Amerika Serikat, pada 19 April 2024. (Xinhua/Wu Xiaoling)
Bangsawan China pria pada masa Dinasti Zhou Timur mengonsumsi jawawut sebagai makanan pokok, dengan asupan daging yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan korban persembahan dan rakyat jelata pada masanya.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim arkeolog China menyelidiki kehidupan para bangsawan dari Negara Qin pada masa Dinasti Zhou Timur (1050–221 SM), yang memberikan wawasan baru mengenai hierarki sosial, kebiasaan pola makan, dan integrasi budaya China kuno.Rincian studi tersebut telah dipublikasikan di Heritage Science, sebuah jurnal internasional. Studi ini dilakukan oleh sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh lektor kepala Shang Xue di Universitas Akademi Ilmu Pengetahuan China, melalui kolaborasi dengan Institut Paleontologi dan Paleoantropologi Vertebrata, Akademi Ilmu Pengetahuan China, dan Akademi Arkeologi Shaanxi.Tim peneliti tersebut menyelidiki dua makam bangsawan, yaitu satu makam bangsawan pria dan satu makam bangsawan wanita, serta tempat pemakaman dua korban persembahan pendamping di Provinsi Shaanxi, China barat laut. Para peneliti menggunakan teknik-teknik canggih, seperti analisis isotop stabil berpresisi tinggi dan pemeriksaan butiran pati pada kalkulus gigi.Studi ini mengungkapkan bahwa bangsawan pria tersebut mengonsumsi jawawut sebagai makanan pokok, dengan asupan daging yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan korban persembahan dan rakyat jelata pada masanya. Hal ini menguatkan pemahaman kita saat ini tentang hierarki sosial China kuno, yakni yang memakan daging adalah para bangsawan.Di sisi lain, bangsawan wanita memiliki pola makan yang unik. Dia mengonsumsi lebih banyak makanan berbahan dasar gandum atau beras selama masa kecilnya, namun beradaptasi dengan pola makan lokal yang didominasi oleh jawawut di masa dewasanya sembari mempertahankan tingkat konsumsi daging yang relatif rendah.Analisis menunjukkan bahwa bangsawan wanita tersebut menghabiskan masa kecilnya di lingkungan yang lebih hangat dan lembap. Para peneliti menyimpulkan bahwa dia kemungkinan besar adalah seorang pengantin wanita bangsawan dari sebuah negara feodal di China timur atau selatan, sebuah contoh dari pernikahan politik yang menjadi ciri khas Periode Musim Semi dan Musim Gugur.Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa anak-anak bangsawan Qin disapih pada usia 3 tahun, yang konsisten dengan catatan dalam kitab klasik China kuno, ‘Kitab Ritus’ (Book of Rites). Sebaliknya, korban persembahan disapih jauh lebih awal, yang mencerminkan adanya perbedaan berdasarkan status.Selain itu, perubahan pola makan selama masa remaja selaras dengan peran sosial. Bangsawan laki-laki memiliki tingkat konsumsi daging tinggi yang fluktuatif ketika mereka mendekati usia wajib militer, yang mungkin berkaitan dengan kegiatan bela diri. Sementara itu, bangsawan wanita beralih ke pola makan lokal setelah usia 7 tahun.Penelitian ini tidak hanya menguak kondisi sosiokultural di balik konsumsi makanan di era China kuno, tetapi juga menyediakan metodologi inovatif untuk mengeksplorasi perjalanan hidup individu dalam sejarah panjang China, ungkap Shang.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

China rilis pedoman untuk perkuat konservasi air dan tanah
Indonesia
•
04 Jan 2023

Pakistan kirim pasokan bantuan ke Turkiye yang dilanda gempa
Indonesia
•
13 Feb 2023

Marak aksi penembakan, insiden pembunuhan massal di AS capai rekor
Indonesia
•
08 May 2023

Feature – China luncurkan serangkaian upaya untuk lindungi siswa dari miopia, obesitas, dan skoliosis
Indonesia
•
17 May 2024
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Antisipasi wabah Nipah, Singapura akan terapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara
Indonesia
•
30 Jan 2026

Kasus bunuh diri anak di Jepang catat rekor tertinggi pada 2025
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026
