Telaah – Anggaran pertahanan AS 2025 capai rekor tertinggi, siapa yang untung?

Foto yang diabadikan pada 5 Januari 2024 ini menunjukkan gedung Capitol di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)
Belanja militer AS yang sangat besar terus meningkat, sebuah siklus tak berujung yang telah berlangsung sejak Perang Vietnam hingga perang di Irak dan Afghanistan. Dalam banyak kasus, intervensi militer AS justru memperburuk alih-alih meredakannya.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Persetujuan baru-baru ini oleh Kongres Amerika Serikat (AS) atas rancangan undang-undang (RUU) kebijakan pertahanan senilai 895 miliar dolar AS untuk 2025 menjadi pengingat serius akan hasrat Washington yang tidak pernah terpuaskan dalam hal belanja militer.Di balik retorika "mempertahankan tanah air" dan "melawan musuh global," pendorong utama dari Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional yang memecahkan rekor untuk tahun fiskal 2025 tampaknya adalah sebuah ambisi yang jauh lebih menyeramkan, yakni perluasan hegemoni militer AS, sebuah tujuan yang sering kali menyebabkan ketidakstabilan di kawasan lain dan memberikan keuntungan bagi kompleks industri militernya sendiri.Belanja militer AS yang sangat besar terus meningkat, sebuah siklus tak berujung yang telah berlangsung sejak Perang Vietnam hingga perang di Irak dan Afghanistan. Dalam banyak kasus, intervensi militer AS justru memperburuk alih-alih meredakannya.Saat ini, fokusnya telah bergeser ke apa yang disebut "persaingan kekuatan besar," sebuah narasi peperangan yang memicu ketegangan global dan memberikan pembenaran untuk anggaran bagi kontraktor pertahanan AS yang terus meningkat.RUU kebijakan pertahanan 2025 adalah contohnya. Dengan 107 kali menyebut tentang China, RUU tersebut terasa seperti sebuah manifesto dari agenda Washington yang semakin paranoid dalam menghadapi China. Selain itu, RUU ini juga menunjukkan upaya terang-terangan para anggota parlemen untuk melindungi kepentingan kontraktor pertahanan AS.RUU itu tidak hanya menargetkan sektor-sektor sensitif seperti peralatan lidar dan semikonduktor, tetapi juga meluas ke bidang-bidang yang lebih sepele, seperti impor bawang putih China. Pencantuman yang tidak masuk akal ini menunjukkan seberapa jauh Washington bersedia untuk memanfaatkan wewenang regulasinya untuk mencapai tujuan tertentu dengan dalih keamanan nasional.Pada kenyataannya, pengeluaran militer yang meningkat melayani kebutuhan kelompok-kelompok kepentingan khusus, bukan untuk mengatasi ancaman keamanan yang nyata.Kompleks industri militer, hubungan simbiosis mutualisme antara pejabat pemerintah dan kontraktor pertahanan swasta, telah diuntungkan dari hampir setiap konflik militer yang dialami AS dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Foto yang diabadikan pada 13 November 2024 ini menunjukkan gedung Capitol di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Hu Yousong)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi larang warga asing terbitkan iklan di media sosial
Indonesia
•
08 Jun 2022

Parlemen Eropa setujui masa jabatan kedua von der Leyen sebagai ketua Komisi UE
Indonesia
•
19 Jul 2024

Ekonomi Rusia akan kontraksi 20 persen di kuartal II karena sanksi
Indonesia
•
28 Feb 2022

KTT Arab-Islam kecam serangan Israel ke Qatar dan nyatakan solidaritas penuh
Indonesia
•
17 Sep 2025
Berita Terbaru

Iran akan anggap setiap langkah militer AS sebagai tindakan perang
Indonesia
•
30 Jan 2026

Penyelidikan pidana federal AS terhadap Ketua The Fed Jerome Powell terus bergulir
Indonesia
•
30 Jan 2026

Nilai mata uang Iran anjlok ke level terendah dalam sejarah di tengah tekanan ekonomi
Indonesia
•
29 Jan 2026

Aktivis AS berencana gelar aksi protes kedua, tuntut agen federal hengkang dari Minnesota
Indonesia
•
29 Jan 2026
