
Penyakit menular merebak cepat di Sudan di tengah perang dan musim hujan

Para pengungsi berkumpul untuk menerima sarapan gratis di sebuah permukiman di Kota Omdurman, Sudan, pada 1 Agustus 2024. Lebih dari separuh penduduk Sudan kini menghadapi kelaparan akut, kata juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (1/8). (Xinhua/Mohamed Khidir)
Berbagai penyakit menular, termasuk kolera dan konjungtivitis, merebak cepat di Sudan akibat konflik berkepanjangan yang berdampak besar pada sektor kesehatan di negara tersebut, yang diperparah oleh hujan lebat dan banjir tahunan.
Khartoum, Sudan (Xinhua/Indonesia Window) – Berbagai penyakit menular, termasuk kolera dan konjungtivitis, merebak cepat di Sudan akibat konflik berkepanjangan yang berdampak besar pada sektor kesehatan di negara tersebut, yang diperparah oleh hujan lebat dan banjir tahunan, kata otoritas dan pakar Sudan.Pada Ahad (18/8), Menteri Kesehatan Sudan Haitham Mohamed Ibrahim menyampaikan dalam sebuah pernyataan bahwa jumlah kasus kolera di negara itu telah mencapai 354 kasus, termasuk 22 kematian.Otoritas Sudan secara resmi telah mendeklarasikan wabah kolera di negara itu sehari sebelumnya, sembari menyatakan bahwa sejumlah pengujian laboratorium telah mengonfirmasi penyebaran kolera di berbagai wilayah di Sudan, termasuk negara bagian Kassala, Gedaref, Gezira, dan Khartoum.Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan jumlah kasus yang jauh lebih tinggi. Pada Jumat (16/8), juru bicara WHO Margaret Harris melaporkan dalam sebuah konferensi pers bahwa sebanyak 11.327 kasus kolera dengan 316 kematian telah dilaporkan di Sudan. Harris juga menyampaikan bahwa epidemi penyakit lainnya, seperti demam berdarah dengue (DBD) dan infeksi meningitis, juga meningkat.Menurut Kementerian Kesehatan Sudan, wabah kolera terutama disebabkan oleh memburuknya kondisi lingkungan akibat perang dan penggunaan air yang tidak aman di beberapa wilayah.Selain itu, kementerian tersebut pada Selasa (13/8) menyampaikan di dalam laporan terbarunya perihal situasi epidemiologis di Sudan bahwa jumlah kasus konjungtivitis, yang juga dikenal sebagai penyakit mata merah, mencapai 2.689 di sembilan negara bagian.Cepatnya penyebaran penyakit menular itu terutama disebabkan oleh perang dan lingkungan yang memburuk selama musim hujan, ungkap laporan terbaru dari Sudanese Doctors Syndicate, sebuah asosiasi profesional para dokter di Sudan.Menurut Kementerian Dalam Negeri Sudan, sejak Juni, sebanyak 68 orang tewas akibat hujan lebat dan banjir yang melanda beberapa lokasi di Sudan.Banjir merupakan peristiwa tahunan di negara itu, yang biasanya berlangsung antara Juni hingga Oktober. Dalam tiga tahun terakhir, hujan lebat telah merenggut ratusan nyawa dan menghancurkan lahan pertanian yang sangat luas.Sudan dilanda konflik mematikan antara Angkatan Bersenjata Sudan dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces) sejak 15 April 2023, mengakibatkan sedikitnya 16.650 orang tewas. Menurut perkiraan, sebanyak 10,7 juta orang kini menjadi pengungsi internal di Sudan, dengan sekitar 2,2 juta lainnya mengungsi ke negara-negara tetangga, tunjuk data terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Ahli: Masker medis wajib dipakai hingga akhir musim semi
Indonesia
•
13 Feb 2021

Oase Al-Ahsa daerah subur dan hijau di Saudi
Indonesia
•
04 Sep 2019

COVID-19 jadi penyebab kematian tertinggi keenam di AS pada Januari 2023
Indonesia
•
25 Feb 2023

Muslim Indonesia di Austria gagas Masjid As-Salam di Wina
Indonesia
•
05 Oct 2021


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
