BRIN soroti tantangan dan cara pandang baru Asia Tenggara di era antroposen

Ilustrasi. (Z on Unsplash)

Zomia Atmosferik menawarkan cara baru memahami Asia Tenggara, bukan hanya sebagai wilayah daratan, tetapi juga melalui pergerakan atmosfer seperti asap kebakaran hutan, angin, dan polusi udara lintas negara.

 

Jakarta (Indonesia Window) — Di tengah krisis lingkungan global dan dunia yang semakin saling terhubung, kajian Asia Tenggara dinilai perlu terus diperkuat dan diperbarui. Hal ini ditegaskan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam sebuah webinar bertajuk ‘Entangled Areas: Reactivating Southeast Asia into the Anthropocene’, Selasa (13/1).

Pelaksana Tugas Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN, Muhammad Najib Azca, menyampaikan bahwa dunia saat ini telah memasuki era Antroposen, yaitu masa ketika aktivitas manusia memberi dampak besar terhadap kondisi planet. Dalam situasi ini, kajian kawasan seperti Asia Tenggara menjadi semakin penting.

“Kajian kawasan memiliki peran krusial untuk memahami dinamika sosial, budaya, dan politik lintas negara yang kini semakin saling terhubung. Di era Antroposen, pendekatan ini perlu terus diperbarui agar tetap relevan dengan tantangan global,” ujar Najib.

Webinar yang digelar oleh Research Center for Area Studies di Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo BRIN, Jakarta, ini menjadi ruang diskusi strategis bagi para akademisi dan peneliti. Forum tersebut menyoroti bagaimana Asia Tenggara tidak bisa lagi dipahami secara terpisah, melainkan sebagai kawasan yang terhubung erat melalui isu lingkungan, ekonomi, hingga politik global.

Research Center for Area Studies sendiri telah berdiri sejak 2001 dan memiliki mandat mengkaji aspek sosial, budaya, dan politik negara-negara yang memiliki hubungan strategis dengan Indonesia. Najib menegaskan bahwa kajian kawasan merupakan fondasi penting untuk membaca dinamika regional sekaligus global.

Dalam konteks akademik global, Najib juga menyinggung pemikiran sejarawan Dipesh Chakrabarty terkait kuatnya warisan kolonialisme dalam produksi pengetahuan. Menurutnya, hingga kini dunia akademik masih didominasi perspektif Barat.

“Upaya dekolonisasi pengetahuan menjadi semakin relevan. Webinar ini sejalan dengan semangat tersebut, yaitu memperkuat perspektif Asia dalam memahami Asia Tenggara,” jelasnya.

Kepala Pusat Riset Wilayah (PRW) BRIN, Fadjar Ibnu Thufail, menjelaskan bahwa webinar ini merupakan tindak lanjut dari penerbitan edisi khusus jurnal Science, Technology, and Society (STS) yang terbit tahun lalu. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari inisiatif riset ‘Border Human Map’, yang mengkaji relasi manusia, non-manusia, dan ekologi secara lintas disiplin.

Diskusi para akademisi tersebut diawali dengan pengantar jurnal oleh Casper Bruun Jensen, dilanjutkan paparan dari Jakkrit Sangkhamanee dan Irina Rafliana, serta ditutup dengan refleksi konseptual dari Thongchai Winichakul.

Salah satu gagasan menarik datang dari Jakkrit Sangkhamanee melalui konsep ‘Zomia Atmosferik’. Konsep ini menawarkan cara baru memahami Asia Tenggara, bukan hanya sebagai wilayah daratan, tetapi juga melalui pergerakan atmosfer seperti asap kebakaran hutan, angin, dan polusi udara lintas negara.

Menurut Jakkrit, pendekatan ini mengkritik cara lama kajian kawasan yang cenderung melihat wilayah sebagai sesuatu yang statis. Dia mencontohkan partikel PM2.5 yang selama ini dikenal sebagai polutan, namun juga dapat dipahami sebagai “agen” yang menghubungkan desa, kota, hingga pusat kekuasaan negara.

Dia juga menegaskan bahwa praktik pembakaran lahan dalam sistem agroindustri tidak bisa sekadar dilihat sebagai kegagalan modernisasi. Praktik tersebut justru menjadi bagian dari infrastruktur yang berdampak luas terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Melalui webinar ‘Entangled Areas’, BRIN berharap dapat memperkuat diskursus akademik lintas disiplin dan mendorong pengembangan kajian Asia Tenggara yang lebih peka terhadap krisis lingkungan dan dinamika global.

Lebih dari itu, inisiatif ini diharapkan dapat memperkaya kontribusi Indonesia dalam percakapan akademik internasional, sekaligus menghadirkan cara pandang baru dalam memahami kawasan Asia Tenggara di era Antroposen.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait