
Ilmuwan China rintis pemuliaan tanaman cerdas-iklim guna perangi pemanasan global

Seorang petani dari koperasi pertanian lokal memanen padi di sebuah sawah di Desa Xidoujiazhuang di Baichigan, Kota Zhuozhou, Provinsi Hebei, China utara, pada 6 November 2024. (Xinhua/Mu Yu)
Budi daya tanaman bertujuan untuk membuat tanaman mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim dan peningkatan suhu global.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dengan semakin pentingnya budi daya tanaman yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim, tim ilmuwan China dalam sebuah studi terobosan berhasil mengidentifikasi pendekatan baru yang secara nyata mampu meningkatkan produktivitas tanaman ketika menghadapi kendala suhu tinggi.Peningkatan suhu global sebesar 2 derajat Celsius diproyeksikan akan secara signifikan meningkatkan rata-rata kerugian hasil panen sebesar 3 hingga 13 persen, sehingga menyoroti kebutuhan mendesak terkait varietas yang lebih tahan panas guna mengatasi kerawanan pangan di masa depan.Para peneliti dari Institut Genetika dan Biologi Perkembangan, yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), menggunakan alat penyuntingan gen yang inovatif untuk menyisipkan elemen kejutan panas (heat-shock element) ke dalam gen tomat yang disebut LIN5. Modifikasi ini meningkatkan ekspresi gen tersebut di bawah tekanan panas dan mengurangi defisiensi gula pada buah di suhu tinggi.Sejumlah pengujian di berbagai musim dan lokasi, termasuk di rumah kaca dan lahan terbuka, menunjukkan bahwa strategi itu meningkatkan hasil panen tomat sebesar 14 hingga 47 persen dalam kondisi normal dan 26 hingga 33 persen dalam kondisi tekanan panas, sehingga mencegah 56 hingga 100 persen kerugian hasil panen akibat panas, papar penelitian yang diterbitkan baru-baru ini di jurnal Cell.Selain itu, eksperimen tim tersebut terhadap padi menunjukkan bahwa metode rekayasa genetika ini mampu meningkatkan produksi padi sebesar 7 hingga 13 persen dalam kondisi normal dan 25 persen dalam kondisi tekanan panas, sehingga dapat mengurangi kerugian hasil panen sebesar 41 persen akibat suhu tinggi.Eksperimen ini secara efektif meningkatkan ketahanan tanaman terhadap iklim dan membuka era baru desain tanaman cerdas-iklim dengan hasil panen tinggi dan stabil, ungkap para peneliti.Perjanjian Paris yang dirilis pada 2015 telah menetapkan target suhu yang membatasi pemanasan global kurang dari 2 derajat Celsius di atas level pra-industri, dengan berbagai upaya dilakukan guna membatasinya hingga 1,5 derajat Celsius per akhir abad ini.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Paus sperma berkomunikasi seperti kode morse, ilmuwan temukan 'bahasa' uniknya
Indonesia
•
24 Jul 2026

Laboratorium laut-dalam angin-ombak berskala besar mulai dibangun di China timur laut
Indonesia
•
11 Nov 2023

Peneliti buat peta pertama untuk reseptor penciuman di hidung
Indonesia
•
30 Apr 2026

Obat berbasis tembaga terbukti kurangi protein beracun Alzheimer, tingkatkan memori spasial
Indonesia
•
16 Jun 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
