
Cangkir kertas sekali pakai ‘biodegradable’ justru bisa lepaskan 4,3 juta nanopartikel plastik per mililiter

Ilustrasi. (Mockup Free on Unsplash)
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Cangkir kertas sekali pakai yang digunakan untuk pesanan kopi takeaway dan minuman panas lainnya dapat melepaskan jutaan partikel mikroplastik saat terpapar cairan panas, demikian ungkap sebuah penelitian terbaru.
Tim peneliti dari Universitas Queensland (UQ) Australia meneliti cangkir sekali pakai yang dilapisi dengan polietilena (polyethylene/PE) berbasis fosil dan asam polilaktat (polylactic acid/PLA), sejenis plastik yang dapat terurai secara hayati (biodegradable).
Mereka menemukan bahwa dalam percobaan, cangkir yang dilapisi PLA melepaskan total massa partikel sekitar 12 kali lebih tinggi dibandingkan cangkir yang dilapisi PE, papar pernyataan UQ yang dirilis pada Kamis (27/8).
"Cangkir yang sebagian besar terbuat dari kertas tidak berarti cangkir tersebut bebas plastik, karena banyak di antaranya mengandung lapisan plastik tipis untuk memberikan ketahanan terhadap air dan menjaga keutuhan strukturnya," papar Elvis Okoffo, peneliti dari UQ.
Dia menambahkan bahwa cangkir kertas sekali pakai digunakan di seluruh dunia untuk minuman kopi, teh, dan minuman panas lainnya.
Penelitian tersebut, yang telah diterbitkan di dalam jurnal ACS Food Science & Technology, mengukur sekitar 4,3 juta nanopartikel per mililiter dari cangkir berlapis PLA, dibandingkan dengan 2,7 juta nanopartikel per mililiter dari cangkir berlapis PE. Ukuran nanopartikel itu kira-kira 1.000 kali lebih tipis daripada sehelai rambut manusia.
Temuan-temuan tersebut menambah bukti yang semakin banyak bahwa produk plastik yang digunakan untuk penyimpanan dan penyiapan makanan merupakan sumber paparan plastik yang signifikan pada manusia yang masuk melalui jalur pencernaan, namun sering kali diabaikan, kata Okoffo.
Kendati demikian, dia mengatakan hasil tersebut tidak serta-merta berarti masyarakat harus berhenti menggunakan cangkir kertas atau bahwa PLA pada dasarnya tidak aman, seraya menuturkan bahwa dampak partikel plastik terhadap kesehatan manusia masih belum jelas.
Para peneliti menyerukan kepada badan pembuat regulasi untuk mempertimbangkan panduan keselamatan atau label peringatan pada bahan-bahan yang bersentuhan langsung dengan makanan.
Para peneliti juga mengatakan bahwa produsen dapat mengembangkan lapisan dalam cangkir yang melepaskan lebih sedikit partikel plastik saat terpapar cairan panas.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti Australia hadirkan efisiensi layaknya otak pada navigasi robot
Indonesia
•
20 Jun 2025

COVID-19 – Penelitian: Antibodi strain Delta mungkin tak lindungi dari Omicron dan sebaliknya
Indonesia
•
07 Dec 2021

Studi: Reforestasi di China berhasil perluas habitat 73,6 persen spesies burung hutan
Indonesia
•
07 Dec 2025

Melestarikan kekayaan geologi Indonesia di Bayat
Indonesia
•
28 Jul 2020


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
