
Dari Palung Jawa hingga polusi plastik: Potensi kerja sama riset laut dalam Indonesia-China tak terbatas

Forum Kerja Sama Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Internasional (International Science and Technology Innovation Cooperation Forum/ISTICF) dan Konferensi Inovasi Teknologi Laut Dalam (Deep-Sea Technology Innovation Conference/DSTIC) Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan 2026, yang merupakan edisi keempat, dibuka di Sanya, Provinsi Hainan, China selatan, pada 4 November 2026. (Xinhua)
Sanya, China (Xinhua/Indonesia Window) – Yustian Rovi Alfiansah kembali mengunjungi China.
Pada Rabu (4/10), dalam Forum Kerja Sama Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Internasional (International Science and Technology Innovation Cooperation Forum/ISTICF) dan Konferensi Inovasi Teknologi Laut Dalam (Deep-Sea Technology Innovation Conference/DSTIC) Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan 2026, yang merupakan edisi keempat dan diselenggarakan di Sanya, Provinsi Hainan, China selatan, peneliti laut dalam dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia itu berkata, "Kerja sama ilmiah di bidang laut dalam antara Indonesia dan China memiliki potensi yang tak terbatas."
Yustian dikenal luas di kalangan peneliti laut dalam China berkat Ekspedisi Palung Jawa yang diselenggarakan bersama oleh China dan Indonesia pada 2024.
Dalam misi tersebut, Yustian menyelam menggunakan kapal selam berawak China, Fendouzhe, hingga kedalaman sekitar 7.000 meter, sehingga menjadikannya peneliti Indonesia pertama yang mencapai kedalaman tersebut.
Pencapaian ini telah mendapatkan sertifikat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), dan menjadi tonggak penting dalam kerja sama penelitian laut dalam antara kedua negara.
Ekspedisi itu dilaksanakan bersama oleh Institut Ilmu Pengetahuan dan Teknik Laut Dalam (Institute of Deep-sea Science and Engineering/IDSSE), yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), dan BRIN.
Tim peneliti tersebut melakukan survei terhadap fitur-fitur geologis Zona Subduksi Sunda, keanekaragaman hayati laut dalam, serta ekosistem abisal.
Ekspedisi laut dalam inilah yang memperkuat kemitraan akademis Yustian dengan tim-tim peneliti China.
Meskipun kerja sama ilmiah laut dalam antara China dan Indonesia masih tergolong baru, kerja sama tersebut telah membuahkan berbagai hasil penelitian yang nyata.
Menyusul ekspedisi tahun 2024 tersebut, kedua belah pihak melanjutkan penelitian bersama mengenai berbagai topik, termasuk degradasi plastik laut.
Sejak 2024, Yustian telah berkunjung ke Sanya hampir setiap tahun. Dia menghabiskan waktu tiga hingga empat bulan setiap kunjungan untuk melakukan penelitian bersama para ilmuwan dari IDSSE, CAS, dan berbagai universitas di China.
Menurut Yustian, Sanya menawarkan platform yang luar biasa untuk penelitian laut dalam.
Kota ini memiliki infrastruktur penelitian yang saling terhubung, laboratorium dengan peralatan yang lengkap, serta klaster fasilitas penelitian laut dalam yang dapat dengan cepat mendukung eksperimen dan membantu para peneliti menghasilkan temuan.
"Perairan laut mencakup sekitar 70 persen luas wilayah Indonesia. Kita perlu mempercepat pengembangan sumber daya manusia dan mengatasi kekurangan peralatan untuk penelitian laut dalam," kata Yustian.
Ketika membahas prospek kerja sama di masa depan, Yustian meyakini bahwa kemaslahatan bersama merupakan kunci kerja sama yang berkelanjutan.
Di satu sisi, pelajar Indonesia dapat menempuh program magister dan doktoral di China untuk mempelajari teknologi canggih dan metodologi penelitian dari rekan-rekan mereka di negara tersebut. Setelah para peneliti itu kembali ke tanah air, para ilmuwan China dapat diundang ke Indonesia untuk ikut serta dalam ekspedisi lapangan dan menganalisis sampel laut bersama-sama.
Menurut Yustian, fasilitas penelitian di Indonesia juga dapat dibuka bagi para peneliti China, sama seperti para ilmuwan Indonesia yang kini memiliki akses penuh ke platform-platform penelitian di Sanya.
Sementara itu, pendanaan dari program-program penelitian, seperti Program Kemitraan Internasional CAS, akan terus mendukung pelaksanaan proyek-proyek penelitian bersama, yang akan menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak.
"China merupakan pemimpin regional dalam penelitian laut dalam di Asia. Lautan yang luas dan belum dikenal menuntut para ilmuwan dari seluruh negara untuk bersatu dan mengungkap misterinya," kata Yustian.
Dia berharap makin banyak peneliti dan pelajar muda Indonesia akan datang ke Sanya, memanfaatkan platform ilmu pengetahuan dan inovasi laut dalam di Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan untuk semakin memperluas dan memperdalam kerja sama China-Indonesia di bidang laut dalam.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Satelit Fengyun-3G baru China sediakan pemantauan curah hujan presisi tinggi
Indonesia
•
17 Apr 2023

Mesir temukan lima makam kuno berusia 4.000 tahun
Indonesia
•
20 Mar 2022

Roket komersial China CERES-1 Y8 luncurkan satu satelit baru
Indonesia
•
27 Aug 2023

Pakaian astronaut Feitian generasi kedua dukung 20 kali 'spacewalk' di stasiun luar angkasa China
Indonesia
•
19 Aug 2025


Berita Terbaru

Pesawat eksperimental NASA X-70 mampu angkut muatan 907 kilogram dan terbang 2.778 kilometer
Indonesia
•
06 Nov 2026

Replika digital tubuh manusia bantu prediksi penyakit dan personalisasi pengobatan
Indonesia
•
07 Nov 2026

Feature – AI jadi tempat curhat baru, psikolog ingatkan risiko isolasi sosial dan salah diagnosis
Indonesia
•
07 Nov 2026

Astronaut lakukan ‘spacewalk’ untuk pasang panel surya gulung terakhir, Stasiun Luar Angkasa Internasional kini hasilkan listrik 215 kilowatt
Indonesia
•
06 Nov 2026
