Che hun tiau a hien tawarkan sensasi segar khas Pontianak yang ‘bikin nagih’ di siang terik

Che hun tiau

Che hun tiau. minuman khas Pontianak (Indonesia Window)

Che hun tiau racikan A Hien memadukan ketan hitam, kacang merah, cincau, dan bongko yang direndam santan gurih. Teksturnya berlapis-lapis, rasanya unik, ada manis, gurih, dan dingin yang langsung mengalir di tenggorokan.

Pontianak, Kalimantan Barat (Indonesia Window) – Pontianak, kota yang dijuluki Bumi Khatulistiwa, memang dikenal panas menyengat hampir sepanjang tahun. Tapi justru dari teriknya cuaca, lahirlah satu minuman legendaris yang jadi penawar dahaga, namanya che hun tiau.

Bagi warga lokal hingga wisatawan dari Jawa, nama Kedai A Hien di Jalan WR Supratman, Kota Pontianak, sudah jadi ikon kuliner yang wajib disinggahi. Dengan harga hanya 13.000 hingga 15.000 rupiah per porsi, semangkuk che hun tiau dingin bisa bikin siapa pun lupa akan teriknya matahari.

Pengunjung memadati kedai che hun tiau A Hien di Jalan WR Supratman, Pontianak, Kalimantan Barat, pada Selasa (30/9/2025). (Indonesia Window)

“Che hun tiau paling enak diminum siang hari, apalagi kalau cuaca lagi panas. Itu segarnya luar biasa,” kata Arya, penyaji sekaligus pengelola kedai yang sudah buka dari jam 9 pagi hingga 5 sore setiap hari.

Che hun tiau racikan A Hien memadukan ketan hitam, kacang merah, cincau, dan bongko yang direndam santan gurih. Teksturnya berlapis-lapis, rasanya unik, ada manis, gurih, dan dingin yang langsung mengalir di tenggorokan. Tak heran, kedai sederhana ini selalu ramai, terutama setelah jam makan siang.

Bukan hanya orang Pontianak yang jatuh cinta, pengunjung dari Jakarta, Bandung, hingga Bogor juga sering mampir. Bahkan, mereka bisa membawa pulang che hun tiau sebagai oleh-oleh, dengan santan dipisah agar tetap segar.

Salah satu pengunjung setia, Purwa asal Bogor, mengaku tak pernah absen singgah ke A Hien. “Setiap kali ke Pontianak, pasti saya mampir ke sini. Rasanya beda banget, cocok sekali diminum dingin pas siang hari,” ujarnya.

Menariknya, selain che hun tiau, kedai ini juga menawarkan choi pan—camilan khas Tionghoa berbahan tepung beras dengan isian bengkuang, kacang, keladi, hingga kucai. Kombinasi minuman segar dan kudapan gurih ini menjadikan pengalaman kuliner di A Hien makin lengkap.

Choi pan, kudapan khas <a href="https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/22012/4/10540044_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf">etnis Tionghoa</a>, telah melebur dalam budaya Indonesia di Pontianak, Kalimantan Barat. (Indonesia Window)

Dengan reputasi yang terus melekat di lidah para pencinta kuliner, che hun tiau a hien bukan sekadar minuman pelepas dahaga. Ia sudah jadi bagian dari identitas Pontianak, sebuah cerita segar dari kota di garis khatulistiwa yang selalu dirindukan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait