
China butuh 4 miliar butir kelapa per tahun, investor lirik Halmahera Utara

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara (kanan) dan Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, meninjau pembangunan toilet di sekolah dasar (SD) Inpres Desa Macang Tanggar, Kabupaten Manggarai Barat, pada Rabu (3/6/2026). (Sumber foto: Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Rombongan Kementerian Transmigrasi (Kementrans) Republik Indonesia (RI) dan Kedutaan Besar (Kedubes) China untuk Indonesia melanjutkan kunjungan kerja ke kawasan transmigrasi di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Halmahera Utara di Maluku Utara pada Rabu (3/6), setelah sebelumnya mengunjungi Papua Selatan. Kunjungan tersebut turut menjajaki peluang kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan industri kelapa.
Dalam kunjungan ke NTT, Kementrans menggandeng Kedubes China untuk berpartisipasi dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) lokal melalui pendidikan, termasuk diantaranya pembangunan sekolah vokasi pariwisata. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mendukung sektor pariwisata di Manggarai Barat yang terus berkembang, khususnya Labuan Bajo, seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan asal China ke wilayah tersebut.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dan Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, juga meninjau langsung pembangunan toilet di sekolah dasar (SD) Inpres Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, dalam rangkaian kunjungan tersebut.
Selain itu, kedua negara menjajaki peluang kerja sama terkait perdagangan dan investasi di industri kelapa lokal dalam kunjungan mereka ke kawasan transmigrasi di Halmahera Utara, Maluku Utara. Sektor ini dinilai memiliki prospek yang menjanjikan karena tingginya permintaan pasar China dan pasar global terhadap produk kelapa beserta seluruh turunannya
"Kebutuhan kelapa di China sangat besar, mencapai sekitar empat miliar butir per tahun, sementara yang bisa dipenuhi dari dalam negeri mereka hanya sekitar satu miliar butir. Artinya, masih ada kebutuhan sekitar tiga miliar butir yang menjadi peluang besar bagi Indonesia, termasuk Halmahera Utara," ujar Iftitah dalam keterangannya pada Kamis (4/6).
Kunjungan ke dua kawasan transmigrasi itu dilakukan menyusul lawatan kedua pihak ke Salor, Papua Selatan, sehari sebelumnya yang menjajaki peluang kerja sama di bidang pertanian, khususnya pada pengembangan riset, teknologi pertanian, sarana produksi, dan sumber daya manusia untuk mendukung ketahanan pangan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Minyak tergelincir 3 dolar AS di Asia jelang pertemuan OPEC+
Indonesia
•
02 Jun 2022

UMKM Kota Bogor melejit lewat Small Class #1 ‘UMKM NAIK KELAS JABAR' di INDIBIZ TELKOM
Indonesia
•
18 Jul 2025

Minyak jatuh jelang potensi kenaikan suku bunga AS yang besar
Indonesia
•
15 Jul 2022

China masih jadi sumber utama investasi di Indonesia pada H1 2025
Indonesia
•
30 Jul 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Piraeus hingga Jakarta-Bandung, kisah visi Xi Jinping tentang pembangunan bersama
Indonesia
•
11 Aug 2026

Turkiye makin diminati wisatawan China, 245.000 berkunjung dalam enam bulan
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari lengan robot hingga AI, begini teknologi China yang mulai membidik Indonesia
Indonesia
•
10 Aug 2026

Jepang dihantam gelombang kebangkrutan, 1.028 perusahaan gulung tikar dalam sebulan
Indonesia
•
10 Aug 2026
