Jerman dan Swedia keluarkan peringatan untuk tidak berlakukan tarif terhadap EV China

Orang-orang mengunjungi stan produsen mobil China Xpeng dalam ajang International Motor Show 2023, yang secara resmi dikenal sebagai IAA MOBILITY 2023, di Munich, Jerman, pada 5 September 2023. (Xinhua/Ren Pengfei)
Mengusulkan pembatasan pada EV menunjukkan tanda-tanda pandangan yang sempit, karena berisiko menimbulkan tindakan balasan dari mitra dagang, yang pada akhirnya akan menyebabkan kelangkaan bahan baku penting bagi EV Eropa.
Stockholm/Berlin, Swedia/Jerman (Xinhua) – Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Perdana Menteri (PM) Swedia Ulf Kristersson telah memperingatkan agar tidak mengenakan tarif terhadap kendaraan listrik (electric vehicle/EV) China setelah pengumuman Washington tentang tarif yang besar.Scholz dan Kristersson menyatakan keraguannya tentang kemungkinan penerapan tarif oleh Eropa untuk produk EV China ketika ditanya pada Selasa (14/5) pada konferensi pers di Stockholm apakah mereka mendukung Uni Eropa (UE) untuk mengikutinya.Pada Selasa, Amerika Serikat (AS) mengumumkan tarif baru untuk sejumlah impor dari China, termasuk EV, selain tarif yang sudah berlaku di bawah Pasal 301. Tarif tambahan ini akan menaikkan tarif impor EV China menjadi 100 persen tahun ini. Pada Oktober 2023, Komisi Eropa meluncurkan penyelidikan antisubsidi terhadap impor EV dari China."Sebanyak 50 persen impor EV dari China berasal dari merek-merek Barat yang memproduksi mobil di sana dan, dalam hal ini, mungkin ada perbedaan dibandingkan dengan Amerika Utara. Ada pertukaran dari kedua belah pihak. Pabrikan Eropa dan bahkan beberapa pabrikan Amerika Utara sukses di pasar China, dan kita harus memperhitungkan hal itu," kata Scholz, seraya menekankan pentingnya perdagangan antara Barat dan China."Terkait bea masuk, saya rasa kami (Swedia dan Jerman) pada dasarnya memiliki konsensus bahwa memulai proses merusak perdagangan global merupakan ide yang buruk," kata Kristersson. "Perang dagang yang lebih luas di mana kita saling menghalangi produk satu sama lain, pada prinsipnya, bukanlah masa depan bagi negara-negara industri besar seperti Jerman dan Swedia."Menurut statistik dari Federasi Eropa untuk Transportasi dan Lingkungan, sekitar 20 persen mobil listrik murni yang terjual di seluruh UE tahun lalu, atau sekitar 300.000 unit, dibuat di China. Lebih dari setengahnya berasal dari produsen mobil Barat, seperti Tesla, Dacia, dan BMW, yang memproduksi unit-unit tersebut di China untuk diekspor.
Orang-orang mengunjungi stan produsen mobil China BYD dalam ajang Busworld Europe di Brussel, Belgia, pada 7 Oktober 2023. (Xinhua/Pan Geping)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

‘Output’ emas Zimbabwe capai rekor tertinggi baru pada 2022
Indonesia
•
12 Jan 2023

Harga minyak naik di tengah kekhawatiran sanksi baru UE atas Rusia
Indonesia
•
05 May 2022

Klaim pengangguran AS turun jadi 217.000 pekan lalu usai naik selama dua pekan
Indonesia
•
10 Nov 2023

CounterPunch: AS capai "kemajuan hebat" dalam meningkatkan ketimpangan ekonomi
Indonesia
•
14 Jun 2023
Berita Terbaru

Feature – Tianlala bawa aroma dan manis teh susu dari China ke Indonesia
Indonesia
•
29 Jan 2026

Laba bersih Tesla anjlok 46 persen pada 2025
Indonesia
•
29 Jan 2026

Feature – Kelapa Indonesia lebih mudah masuki pasar China berkat jalur pengiriman dan kebijakan preferensial Hainan
Indonesia
•
28 Jan 2026

Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol
Indonesia
•
27 Jan 2026
