
Terapi hormon dapat pengaruhi risiko kanker payudara pada wanita berusia di bawah 55 tahun

Ilustrasi. ( Angiola Harry on Unsplash)
Dua bentuk terapi hormon yang umum dapat memengaruhi risiko kanker payudara pada wanita di bawah usia 55 tahun.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Studi baru yang dipimpin oleh tim ilmuwan di Institut Kesehatan Nasional (National Institutes of Health/NIH) Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa dua bentuk terapi hormon yang umum dapat memengaruhi risiko kanker payudara pada wanita di bawah usia 55 tahun.Menurut studi itu, wanita yang menerima terapi hormon estrogen (estrogen hormone therapy/E-HT) tanpa lawan berisiko lebih rendah terkena kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan terapi hormon. Sebaliknya, wanita yang diobati dengan terapi hormon kombinasi estrogen plus progestin (estrogen plus progestin hormone therapy/EP-HT) ditemukan berisiko lebih tinggi terkena kanker payudara.Temuan tersebut, yang dipublikasikan pada Senin (30/6) di dalam jurnal Lancet Oncology, didasarkan pada analisis data yang ekstensif terhadap lebih dari 459.000 wanita berusia di bawah 55 tahun di Amerika Utara, Eropa, Asia, dan Australia."Studi kami memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai risiko yang berkaitan dengan berbagai jenis terapi hormon, yang kami harapkan dapat membantu pasien dan dokter mereka untuk mengembangkan rencana perawatan yang lebih informatif," ujar Katie O'Brien, peneliti utama dalam studi ini yang juga peneliti di Institut Ilmu Kesehatan Lingkungan Nasional (National Institute of Environmental Health Sciences/NIEHS) yang dinaungi NIH.Studi ini menemukan bahwa penggunaan E-HT berkaitan dengan penurunan insidensi kanker payudara sebesar 14 persen jika dibandingkan dengan non-pengguna. Dampak protektif terapi E-HT lebih menonjol di antara wanita yang memulai E-HT pada usia yang lebih muda atau menggunakannya dalam durasi yang lebih lama.Sebaliknya, wanita yang menggunakan EP-HT mengalami risiko kanker payudara 10 persen lebih tinggi, yang meningkat menjadi 18 persen di antara mereka yang menggunakan terapi ini selama lebih dari dua tahun.Risiko kumulatif kanker payudara sebelum usia 55 tahun diperkirakan mencapai 3,6 persen untuk pengguna E-HT, 4,5 persen untuk pengguna EP-HT, dan 4,1 persen untuk wanita yang tidak pernah menggunakan terapi hormon, papar studi tersebut.Para peneliti juga menyampaikan bahwa peningkatan risiko yang berkaitan dengan EP-HT sangat signifikan di antara wanita yang belum pernah menjalani histerektomi atau ooforektomi, sehingga menekankan pentingnya mempertimbangkan riwayat operasi saat mengevaluasi pilihan terapi hormon."Temuan-temuan tersebut menggarisbawahi perlunya saran medis yang dipersonalisasi saat mempertimbangkan terapi hormon," ujar Dale Sandler, ilmuwan NIEHS yang juga peneliti senior dalam studi ini.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Magnet resistif buatan China pecahkan rekor dunia baru
Indonesia
•
24 Sep 2024

Tim peneliti Australia kembangkan kulit manusia buatan lab yang punya sistem peredaran darah
Indonesia
•
23 Aug 2025

16.000 izin uji coba kendaraan otonomos telah diterbitkan di China
Indonesia
•
28 Aug 2024

Peneliti BRIN ungkap Pulau Sumba dihuni manusia sejak 2.800 tahun silam
Indonesia
•
21 Jul 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
