
Suhu laut dekati rekor tertinggi pada Maret seiring potensi El Nino kian menguat

Orang-orang berjalan melewati gedung Komisi Eropa di Brussel, Belgia, pada 19 Juli 2022. (Xinhua/Zheng Huansong)
Suhu permukaan laut global naik ke level tertinggi kedua dalam sejarah pada Maret dan semakin mendekati puncak yang tercatat selama periode El Nino terakhir.
Brussel, Belgia (Xinhua/Indonesia Window) – Suhu permukaan laut global naik ke level tertinggi kedua dalam sejarah pada Maret dan semakin mendekati puncak yang tercatat selama periode El Nino terakhir, demikian disampaikan oleh lembaga pemantau iklim Uni Eropa (UE) pada Jumat (10/4), yang mengindikasikan bahwa iklim kemungkinan akan memasuki fase pemanasan baru tahun ini.
Rata-rata suhu permukaan laut di wilayah samudra ekstrapolar (extra-polar oceans), yang membentang 60 derajat lintang selatan hingga 60 derajat lintang utara, mencapai 20,97 derajat Celsius pada Maret, menjadikannya sebagai level tertinggi kedua yang pernah tercatat untuk bulan tersebut, di bawah bulan Maret 2024 saat periode El Nino sebelumnya, menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service/C3S) yang didanai UE.
Suhu permukaan laut harian meningkat stabil sepanjang bulan itu dan mendekati level tertinggi yang tercatat pada 2024, sebut C3S.
Copernicus menambahkan bahwa banyak pusat pemantauan iklim memperkirakan terjadinya peralihan dari kondisi netral ke El Nino pada paruh kedua (H2) 2026. Pola cuaca ini, yang ditandai dengan pemanasan air permukaan di area Samudra Pasifik di sekitar khatulistiwa, dapat meningkatkan suhu global dan memperparah cuaca ekstrem di beberapa daerah.
Maret 2026 juga tercatat sebagai bulan Maret terpanas keempat dalam sejarah, dengan rata-rata suhu udara permukaan global mencapai 1,48 derajat Celsius di atas level praindustri (1850-1900), papar C3S.
Pada bulan tersebut, Eropa mengalami bulan Maret terpanas kedua dalam sejarah, dan sebagian besar wilayah benua itu mengalami kondisi yang lebih kering dari rata-rata setelah sebelumnya melewati bulan Februari yang lebih dingin dan sangat basah.
Maret lalu juga ditandai dengan cuaca panas ekstrem dan kondisi kering di berbagai belahan dunia lainnya, termasuk gelombang panas dini yang belum pernah terjadi sebelumnya serta kondisi yang lebih kering dari rata-rata di sebagian wilayah Amerika Serikat dan Meksiko. Di kawasan Arktik, baik luas maksimum es laut tahunan maupun rata-rata Maret mencapai level terendah dalam sejarah.
"Data Copernicus untuk Maret 2026 mengungkap kisah yang mengkhawatirkan," ujar Carlo Buontempo, direktur C3S di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts. "Setiap angka merupakan kejutan tersendiri, tetapi jika digabungkan, angka-angka tersebut menggambarkan sistem iklim yang berada di bawah tekanan yang berkelanjutan dan semakin cepat."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Mulai media sosial di usia 11 tahun, benarkah terlalu dini? Studi ungkap dampaknya
Indonesia
•
01 Sep 2026

Astronaut Shenzhou-19 lakukan eksperimen baru di stasiun luar angkasa
Indonesia
•
15 Jan 2025

Penjelajah Rusia akan lakukan perjalanan 10 hari di Kutub Utara
Indonesia
•
21 May 2021

Peneliti China kembangkan jaringan observasi karbon terkoordinasi
Indonesia
•
10 Nov 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
