
Wawancara – Imam Besar Masjid Paris ungkap tantangan Muslim di Prancis

Imam Besar Masjid Agung Paris, Dr. Khaled Larbi (kiri), memberikan kitab suci Al-Qur'an kepada Bambang Purwanto (kanan), seorang jurnalis tamu dari Indonesia Window, setelah wawancara khusus di Paris pada Kamis (25/6/2026). (Indonesia Window)
Masjid Agung Paris hingga kini tetap menjadi rujukan utama umat Islam di Prancis, meskipun sejumlah masjid telah berdiri di sebagian besar kota di negeri kelahiran Napoleon Bonaparte itu.
Paris, Prancis (Indonesia Window) – Menjalankan ajaran Islam di Paris maupun di Prancis pada umumnya bukanlah perkara mudah.
Salah satu tantangan yang dihadapi umat Islam di negara Eropa Barat itu adalah sulitnya melaksanakan salat lima waktu di tempat kerja. Namun demikian, Allah ﷻ senantiasa memberikan jalan sehingga umat Islam tetap dapat menjalankan ibadah.
Hal tersebut disampaikan Imam Besar Masjid Agung Paris, Dr. Khaled Larbi, kepada jurnalis Indonesia Window, Bambang Purwanto, dalam sebuah wawancara di Paris, Kamis (25/6).
Wawancara tersebut dilakukan dalam rangka peliputan jurnalistik selama kunjungan Bambang Purwanto ke Paris pada 19–28 Juni 2026.
Menurut Dr. Khaled, Islam merupakan agama yang membawa perdamaian dan mendorong kehidupan berdampingan secara harmonis. Nilai-nilai Islam, katanya, sejalan dengan kehidupan bersama, baik dengan pemeluk agama lain maupun dengan mereka yang tidak beragama (ateis).
Dia menjelaskan, jumlah umat Islam di Prancis diperkirakan mencapai lima hingga enam juta jiwa dari sekitar 69,1 juta penduduk, dengan sekitar 500.000 di antaranya tinggal di Paris.
Dr. Khaled, yang juga seorang profesor di universitas, mengatakan bahwa Masjid Agung Paris hingga kini tetap menjadi rujukan utama umat Islam di Prancis, meskipun sejumlah masjid telah berdiri di sebagian besar kota di negeri kelahiran Napoleon Bonaparte itu.
Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, Masjid Agung Paris juga secara rutin menyelenggarakan kajian tentang Islam. Hasil-hasil kajian tersebut dipublikasikan melalui situs jejaring resmi masjid, artikel berita, serta berbagai publikasi lainnya.
Masjid Agung Paris dikelola berdasarkan status asosiasi sesuai hukum Prancis melalui ‘Société des Habous et Lieux Saints de l'Islam’. Lembaga ini juga membawahi sekitar 160 imam yang bertugas di berbagai wilayah.

Dr. Khaled menjelaskan bahwa pembangunan Masjid Agung Paris dimulai pada tahun 1922 dan selesai pada 1926. Masjid tersebut merupakan salah satu masjid tertua di Prancis.
Bangunan masjid mengusung arsitektur yang terinspirasi dari gaya Andalusia (bagian dari wilayah Spanyol) dan Maghribi (Maroko), dilengkapi sejumlah halaman dalam (patio), taman, serta menara (minaret) setinggi 33 meter.
Saat ini, sebagian besar pembiayaan operasional masjid berasal dari Aljazair, sementara sebagian kecil lainnya berasal dari sumbangan para donatur di Prancis maupun dari negara-negara lain.
Usai wawancara, Imam Besar Masjid Agung Paris menghadiahkan sebuah mushaf Al-Qur'an kepada Bambang Purwanto sebagai kenang-kenangan.
Laporan ini merupakan bagian dari rangkaian artikel feature yang ditulis Bambang Purwanto selama melakukan peliputan di Paris, Prancis.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Rumah Singgah Janda Dhuafa pertama di Cileungsi, solusi pengentasan kemiskinan
Indonesia
•
21 May 2026

Nabi Idris عليه السلام orang pertama menulis dengan pena
Indonesia
•
18 Sep 2019

“Fake List”: Kisah perundungan
Indonesia
•
30 Nov 2019

Ramadan 1447 – Al-Ghozy Muslimah Center salurkan 1.150 paket sembako untuk pejuang Al-Qur’an
Indonesia
•
21 Feb 2026


Berita Terbaru

Ma'had Sabilul Qur'an usung visi besar 2030, siapkan generasi penghafal Al-Qur'an berkelas dunia
Indonesia
•
22 Jun 2026

Al Ghozy Muslimah Center salurkan 1.200 paket daging kurban untuk pengajar Al-Qur’an
Indonesia
•
30 May 2026

Idul Adha ‘ramah lingkungan’, daging kurban dibagi dalam wadah besek
Indonesia
•
28 May 2026

Feature – Melempar jumrah, membuang sifat tercela
Indonesia
•
28 May 2026
