Feature – Trauma terus hantui masyarakat Venezuela pascaserangan AS

Orang-orang ikut serta dalam sebuah pawai di Caracas, Venezuela, pada 14 Januari 2026. (Xinhua/Lucio Tavora)

Caracas, Venezuela (Xinhua/Indonesia Window) – "Setiap kali ada suara, kami tidak bisa tidur. Saya mengalami kecemasan tidur, saya baru merasakan kantuk sekitar pukul 06.00, saat cahaya muncul," kata penduduk Caracas bernama Beverly Moreno saat membagikan pengalamannya pascaserangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela pada 3 Januari lalu.

Moreno tinggal bersama dua putrinya dan ibunya yang sudah lanjut usia di kompleks perumahan Carlos Raul Villanueva, beberapa meter dari Fort Tiuna, instalasi militer besar di Caracas barat daya yang dibom dalam serangan tersebut.

"Takut, ngeri, kami akhirnya berdiri di dekat jendela sampai pukul 01.00 atau 02.00," ujarnya, memaparkan bagaimana tetangganya bereaksi terhadap suara atau cahaya tak dikenal.

"Panik dan teror" merangkum pengalaman itu, katanya. Saat malam tiba, jantung Moreno berdebar-debar sementara tubuhnya bergetar dan tangannya menjadi dingin. "Ketika saya akhirnya tidur, saya mengalami mimpi buruk," sambungnya. Anak-anak perempuannya juga mengalami kecemasan pada malam hari.

Moreno mengatakan beban psikologis telah menyebar di komunitas. "Sebagian besar tetangga terdampak," katanya, seraya menambahkan bahwa 211 keluarga telah menerima dukungan psikologis, banyak di antaranya karena serangan panik. "Anak-anak yang sebelumnya tumbuh secara normal mengalami kemunduran ... Mereka menangis terus-menerus."

Jendela rusak di apartemennya menjadi bukti dari gelombang ledakan. Kerusakan terlihat di seluruh kompleks itu, tempat Moreno telah tinggal selama 15 tahun di sebuah apartemen yang disediakan melalui program perumahan pemerintah Great Housing Mission Venezuela.

Di Simon Bolivar, area pemukiman tetangganya, musisi Jose Alejandro Delgado mengatakan bahwa dia mengubah pengalaman itu menjadi sebuah lagu. "Di mana cintamu," liriknya bertanya, "ketika mereka mengebom sebuah bangsa tanpa alasan, memaksa mereka merasakan kesakitan luar biasa?"

"Tak ada kata yang bisa menjelaskan bagaimana rasanya ketika rudal, bom, dan helikopter menyerang kurang dari 1 kilometer dari rumah Anda," kata Delgado. Para seniman, tambahnya, terdampak seperti yang lainnya. "Namun, kami juga memahami peran kami, bahkan ketika kami terluka, yakni menciptakan kohesi dan keindahan dari kesulitan."

Meski mengalami trauma, Delgado mengatakan bahwa dia dan sesama musisi lainnya terus berkarya. "Budaya kami adalah perdamaian," katanya. "Kami ingin menciptakan ruang di mana orang-orang merasa didukung dan tenang, tempat mereka bisa merenung."

Otoritas Venezuela mengatakan serangan pada 3 Januari tersebut menewaskan lebih dari 100 orang, termasuk warga sipil dan personel militer. Peristiwa seperti ini belum pernah terjadi di negara itu selama lebih dari satu abad.

Psikolog sekaligus profesor universitas bernama Jose Garces menggambarkan dampak peristiwa itu sebagai "trauma psikososial," mengacu pada studi tentang trauma terkait perang di Amerika Tengah.

"Ada depresi, stres, rasa sakit ... semuanya secara bersamaan," kata Garces. Gejalanya meliputi insomnia, sering menangis, kecemasan tinggi, detak jantung cepat, dan berkeringat.

Garces mengatakan trauma semacam itu sering kali "tak bisa diungkapkan, tak bisa dilabeli", bahkan "tak terbayangkan", dengan pasien menjadi tertekan secara psikologis. Dia mendorong para penyintas untuk mengungkapkan apa yang mereka alami.

Serangan asing terakhir yang sebanding dengan peristiwa ini di Venezuela terjadi pada 1902-1903, ketika kekuatan Eropa, termasuk Inggris, Italia, dan Jerman, memblokade dan menyerang pelabuhan negara itu.

Selesai

Penulis: Chevige Gonzalez Marco, Tian Rui

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait