
Permintaan meningkat, perusahaan bioteknologi berlomba kembangkan galur baru kedelai berkualitas tinggi

Pengunjung mempelajari tentang kedelai dalam ajang Pameran Pertanian dan Pangan Internasional Changchun China (China Changchun International Agriculture and Food Fair Expo) ke-19 di Changchun, Provinsi Jilin, China timur laut, pada 15 Agustus 2020. (Xinhua/Xu Chang)
Galur baru kedelai berkualitas tinggi, Maiyu 511, terbukti cocok untuk ditanam saat musim semi di wilayah utara China dan memiliki kandungan minyak 23,69 persen, melebihi rata-rata kandungan minyak kedelai impor.
Changchun, China (Xinhua/Indonesia Window) – Berkat akses ke teknologi pemuliaan tanaman yang berkembang pesat, perusahaan-perusahaan bioteknologi China tertarik untuk membudidayakan galur (strain) baru kedelai berkualitas tinggi guna memenuhi besarnya permintaan pasar di negara tersebut, ungkap sejumlah sumber usai pertemuan nasional yang digelar di China baru-baru ini.Sejumlah varietas kedelai yang baru dikembangkan memiliki kandungan minyak tinggi serta hasil panen tinggi. Varietas-varietas tersebut dipamerkan dalam pertemuan yang diadakan pada Jumat (12/9) di Provinsi Jilin, China timur laut. Pertemuan itu berfokus pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) utama nasional dalam pemuliaan bioteknologi pertanian.Semua galur baru yang ditampilkan dalam pertemuan di Jilin itu memiliki kandungan minyak di atas 22 persen dan hasil panen 8 persen lebih tinggi dibandingkan galur yang saat ini ditanam.Dengan dukungan dari sebuah program nasional yang bertujuan mendorong pemuliaan bioteknologi pertanian, institusi-institusi penelitian dan perusahaan-perusahaan benih ikut berupaya menerapkan teknologi mutakhir dalam pemuliaan kedelai, misalnya polimerisasi poligen dan seleksi penanda molekuler.Dalam pertemuan tersebut, Beijing Dabeinong Biotechnology Co., Ltd. mempresentasikan varietas baru dari perusahaan itu yang diberi nama Maiyu 511, yang terbukti cocok untuk ditanam saat musim semi di wilayah utara China dan memiliki kandungan minyak 23,69 persen, melebihi rata-rata kandungan minyak kedelai impor.Shao Liangliang, seorang petani biji-bijian di wilayah Lishu, Provinsi Jilin, merupakan salah satu petani yang mencoba menanam galur baru tersebut tahun ini. Dia menanam benih kedelai Maiyu 511 di ladang seluas 3,6 hektare, dan saat ini, tanamannya sudah hampir siap untuk dipanen."Varietas baru ini menghemat hampir 100 yuan per hektare untuk biaya tanam. Hasil panennya akan lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Saya akan memperluas area penanaman benih ini tahun depan," ujar Shao.*1 yuan = 2.301 rupiahSejak 2015, volume impor kedelai tahunan China melampaui 80 juta ton, karena pasokan kedelai dalam negerinya tidak mampu memenuhi permintaan pasar domestik, yang sebagian disebabkan oleh kurangnya pengembangbiakan varietas kedelai yang memiliki kandungan minyak tinggi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Rusia luncurkan dua kapal selam strategis bertenaga nuklir terbaru
Indonesia
•
30 Dec 2022

ITB perkuat kerja sama riset energi, garap AI, hidrogen, hingga teknologi penangkap karbon
Indonesia
•
17 Jul 2026

Mongolia tanam 84 juta pohon sejak 2021 guna perangi penggurunan
Indonesia
•
11 Oct 2024

Boeing Starliner akan kembali ke Bumi tanpa awak pekan depan
Indonesia
•
01 Sep 2024


Berita Terbaru

Arab Saudi rehabilitasi 1 juta hektare lahan, targetkan 10 miliar pohon
Indonesia
•
13 Aug 2026

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026
