
Universitas China kembangkan kendaraan terbang bionik dengan durasi terbang panjang

Foto yang diabadikan pada 21 Januari 2022 ini memperlihatkan penerbangan sebuah ornithopter yang dikembangkan oleh Universitas Beihang. (Xinhua/Universitas Beihang)
Kendaraan terbang bionik yang dikembangkan oleh Northwestern Polytechnical University itu meniru kepakan sayap burung dan memiliki potensi untuk melakukan penerbangan jarak jauh.
Beijing, China (Xinhua) – Sebuah universitas di China berhasil mengembangkan kendaraan terbang bionik dengan durasi terbang selama 123 menit tanpa jeda.Kendaraan terbang bionik yang dikembangkan oleh Northwestern Polytechnical University itu meniru kepakan sayap burung dan memiliki potensi untuk melakukan penerbangan jarak jauh.Kendaraan itu dapat diluncurkan menggunakan tangan dan mampu meluncur ke darat dengan mobilitas tinggi, menurut pihak universitas.Kendaraan itu menyelesaikan lebih dari 3.000 misi penerbangan di lebih dari 20 wilayah di seluruh China pada ketinggian maksimum 4.300 meter di atas permukaan laut, kata universitas tersebut. Disebutkan pula bahwa kendaraan itu mampu terbang di suhu antara minus 10 derajat Celsius hingga 40 derajat Celsius dengan embusan angin sedang, serta di tengah hujan ringan dan salju.Para peneliti dari universitas itu mengembangkan berbagai kendaraan terbang bionik selama 20 tahun terakhir dan mendapatkan lebih dari 100 paten resmi untuk penemuan mereka.Rekor terbang ornithopter
Sebelumnya, para peneliti dan mahasiswa dari Universitas Beihang China memecahkan rekor Guinness untuk durasi penerbangan terlama sebuah ornithopter, pesawat nirawak yang terbang dengan mengepakkan sayap mekanisnya.Dengan mesin yang menyerupai burung, pesawat nirawak itu terbang selama 1 jam 30 menit dan 4,98 detik tanpa jeda.Sebuah video menunjukkan momen penerbangan (single charge) yang memecahkan rekor itu, yang dilakukan di sebuah lapangan terbuka di Beijing pada 21 Juli.Durasi terbang ornithopter di seluruh dunia sebelumnya cenderung singkat, dengan sebagian besar hanya mampu bertahan selama sekitar setengah jam, jauh lebih singkat dibanding berbagai jenis pesawat konvensional lainnya, sehingga rekor dunia pun belum tercipta, papar Zhao Longfei, associate researcher di Institut Penelitian Ilmu Pengetahuan Baru Universitas Beihang sekaligus salah satu anggota tim peneliti.Ditenagai oleh baterai lithium-ion, flapper drone itu memiliki bobot 1,6 kilogram, lebar rentangan sayap 2 meter, dan mampu terbang dengan kecepatan 10 meter per detik.Ornithopter meniru kepakan sayap burung, kelelawar, dan serangga. Pesawat nirawak itu memiliki potensi aplikasi di banyak bidang, antara lain eksplorasi Mars, pengusiran burung di bandara, dan studi pesawat near-space, kata Zhao.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Permintaan meningkat, perusahaan bioteknologi berlomba kembangkan galur baru kedelai berkualitas tinggi
Indonesia
•
17 Sep 2025

Teleskop Webb NASA ungkap detail baru tentang aurora di Jupiter
Indonesia
•
18 May 2025

Jamur enoki terkontaminasi saat pengepakan dan penyimpanan
Indonesia
•
27 Jun 2020

Studi: Separuh spesies tanaman asli Inggris mengalami penurunan
Indonesia
•
09 Mar 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
