Israel sebut 750.000 orang mengungsi dari Gaza City seiring meningkatnya serangan militer

Gaza City sebelumnya dihuni

Asap mengepul dari bangunan-bangunan yang rusak di Gaza City, sebagaimana terlihat dari perbatasan selatan Israel, pada 25 September 2025. (Xinhua/Gil Cohen Magen)

Gaza City sebelumnya dihuni oleh sekitar 1 juta orang sebelum Israel memerintahkan evakuasi massal dan melancarkan serangannya.

Yerusalem, Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada Sabtu (27/9) mengatakan bahwa lebih dari 750.000 penduduk telah meninggalkan Gaza City seiring meningkatnya serangan militer Israel di wilayah kantong tersebut.

Katz menyatakan bahwa eksodus ini terus berlanjut seiring Israel memasuki apa yang dia sebut sebagai fase "penentu" dalam operasi mereka. "Kendaraan militer otonomos yang membawa bahan peledak dikerahkan di depan pasukan untuk menjinakkan bahan peledak, dan dukungan tembakan untuk melindungi pasukan manuver dari udara dan darat sangat intens dan kuat," kata kantornya dalam sebuah pernyataan.

Katz memperingatkan bahwa kecuali Hamas membebaskan semua sandera Israel dan melucuti senjata, "Gaza dan Hamas akan dihancurkan."

Gaza City sebelumnya dihuni oleh sekitar 1 juta orang sebelum Israel memerintahkan evakuasi massal dan melancarkan serangannya.

Kantor berita Palestina WAFA melaporkan bahwa 98 warga Palestina tewas pada Sabtu akibat serangan dan tembakan Israel di seluruh Jalur Gaza.

Mesir pada Ahad (28/9) mengirimkan konvoi bantuan kemanusiaan berskala besar yang mengangkut hampir 3.000 ton pasokan bantuan darurat ke Jalur Gaza, menurut Bulan Sabit Merah Mesir (Egyptian Red Crescent/ERC) dalam sebuah pernyataan.

Bantuan tersebut merupakan konvoi ke-43 yang dikirim dalam kerangka sebuah inisiatif yang diluncurkan oleh ERC pada 27 Juli sebagai mekanisme Mesir untuk menyalurkan bantuan ke Gaza.

Konvoi pada Ahad tersebut mencakup lebih dari 2.700 ton makanan dan tepung, serta sekitar 300 ton pasokan medis dan bantuan kemanusiaan, ujar pernyataan itu.

Sementara itu, otoritas kesehatan Gaza menyebutkan bahwa kampanye militer Israel telah menewaskan 66.005 warga Palestina dan melukai 168.162 lainnya sejak 7 Oktober 2023, sekaligus menghancurkan infrastruktur dan memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Otoritas kesehatan itu melaporkan bahwa sejumlah rumah sakit di Gaza telah menerima 79 jenazah dan 379 orang terluka dalam 24 jam terakhir, menambahkan bahwa "sejumlah korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalanan, sementara tim ambulans dan penyelamatan sipil tidak dapat menjangkau mereka."

Selain itu, kelaparan dan malnutrisi juga telah merenggut 422 jiwa, termasuk 145 anak-anak, sejak konflik dimulai, menurut otoritas kesehatan tersebut.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait