Wawancara – Ekonom sebut pernyataan keliru PM Takaichi akan beri pukulan keras bagi perekonomian Jepang

Hubungan bisnis yang erat

Warga menghadiri aksi unjuk rasa di depan kediaman resmi perdana menteri Jepang di Tokyo, Jepang, pada 21 November 2025. (Xinhua/Jia Haocheng)

Hubungan bisnis yang erat antara Jepang dan China karena produk-produk China memuat komponen yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan Jepang, dan beberapa produk Jepang memiliki komponen yang hanya dapat diproduksi oleh perusahaan-perusahaan China.

Tokyo, Jepang (Xinhua/Indonesia Window) – Pemahaman Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi tentang China dan hubungan Jepang-China benar-benar tidak sesuai dengan kenyataan, dan serangkaian tindakannya belum lama ini telah berdampak signifikan terhadap hubungan bilateral, menurut Hidetoshi Tashiro, kepala ekonom Infinity LLC Jepang.

"Jika dia tidak mengubah perilakunya, itu akan memberi pukulan keras bagi perekonomian Jepang," tutur Tashiro dalam sesi wawancara eksklusif dengan Xinhua baru-baru ini.

Tashiro mengungkapkan kekhawatiran mendalam terkait perilaku Takaichi yang melanggar "garis merah" China, yang menyebabkan kemerosotan tajam dalam hubungan bilateral.

Tashiro menyoroti hubungan bisnis yang erat antara Jepang dan China karena produk-produk China memuat komponen yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan Jepang, dan beberapa produk Jepang memiliki komponen yang hanya dapat diproduksi oleh perusahaan-perusahaan China. Bagi Jepang, China telah lama menjadi entitas yang dengannya Jepang "tidak bisa memisahkan diri," demikian ekonom itu menekankan.

Tashiro mengatakan bahwa kebutuhan Jepang dan China dari satu sama lain tidak setara, dengan Jepang lebih bergantung pada China, dan ekonomi China hampir lima kali lebih besar dari Jepang.

Jika perdagangan dan investasi antara kedua negara benar-benar terhenti, China tentu akan terdampak. Namun bagi Jepang, ini bukan sekadar kerugian, melainkan masalah "hidup dan mati," ujar Tashiro.

Tashiro yakin bahwa pariwisata, ritel, dan film Jepang akan menjadi industri pertama yang terdampak. Pariwisata dan ritel merupakan "sumber lapangan kerja" yang penting di Jepang, terutama di daerah-daerah yang penduduknya sedikit dan sangat bergantung pada manfaat ekonomi dan peluang kerja yang dihadirkan oleh pariwisata.

Tashiro mengatakan bahwa wisatawan China tidak hanya merupakan sumber wisatawan terbesar bagi Jepang, tetapi juga memiliki daya beli yang kuat. Menurut data yang dirilis oleh Badan Pariwisata Jepang, wisatawan dari China Daratan dan Hong Kong menyumbang sekitar 30 persen dari total pengeluaran pariwisata masuk (inbound) di Jepang selama tiga kuartal pertama tahun ini.

"Penurunan tajam dalam jumlah wisatawan China akan menyebabkan kerugian besar bagi industri ritel dan pariwisata Jepang. Terlebih lagi, tidak adanya wisatawan China juga akan berdampak serius terhadap perekonomian lokal di Jepang," kata Tashiro.

"Sektor drama televisi Jepang juga bisa terdampak di masa mendatang," imbuh Tashiro. "Saat ini, stasiun-stasiun televisi Jepang mengandalkan penjualan di pasar China sebagai prasyarat profitabilitas ketika memproduksi serial berbiaya tinggi. Jika ekspor drama ke China terdampak, kerugiannya akan sangat besar."

Tashiro menekankan bahwa risiko yang lebih mendalam dari memburuknya hubungan Jepang-China terletak pada rantai pasokan. Ekonom itu mengatakan bahwa rantai pasokan hampir semua industri Jepang memiliki kaitan dengan China.

Jika rantai pasokan tersebut terganggu, perusahaan-perusahaan Jepang akan berada dalam situasi sulit yang tidak dapat dikendalikan. Jika situasi buruk ini terus berlanjut, fondasi ekonomi Jepang dapat terguncang, ujar Tashiro.

"Perekonomian China dapat berjalan tanpa Jepang, tetapi perekonomian Jepang tidak dapat bertahan tanpa China. Jika Takaichi menolak menarik kembali pernyataannya dan terus memprovokasi, sehingga tidak ada harapan untuk memperbaiki hubungan Jepang-China, keyakinan bisnis bisa terdampak di masa mendatang," kata Tashiro memperingatkan.

"Jika ini terus berlanjut, ekonomi Jepang mungkin akan mengalami resesi parah tahun depan," imbuhnya memperingatkan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait