
Korban jiwa akibat hujan deras di Korsel bertambah jadi 40 orang, 9 orang hilang

Petugas melakukan upaya drainase di sebuah underpass di Cheongju, Provinsi Chungcheong Utara, Korea Selatan (Korsel), pada 15 Juli 2023. Hujan lebat di Korsel telah mengakibatkan sedikitnya tujuh orang tewas, tiga hilang, dan tujuh lainnya luka-luka, kata kantor berita Yonhap pada Sabtu (15/7) mengutip otoritas terkait. (Xinhua/NEWSIS)
Hujan lebat di Korea Selatan telah menelan korban jiwa sebanyak 40 orang, sementara sembilan orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Seoul, Korea Selatan (Xinhua) – Jumlah korban tewas akibat hujan lebat baru-baru ini di Korea Selatan (Korsel) bertambah menjadi 40 orang, sementara sembilan orang lainnya masih dinyatakan hilang, demikian dilaporkan oleh pihak berwenang pada Senin (17/7).Sebanyak 40 orang ditemukan tewas di Provinsi Gyeongsang Utara, Korsel bagian tenggara, dan Provinsi Chungcheong, Korsel bagian tengah, menurut Kantor Pusat Penanggulangan Bencana dan Keselamatan (Central Disaster and Safety Countermeasure Headquarter/CDSCH) Korsel.Peringatan hujan lebat telah dikeluarkan untuk provinsi-provinsi tersebut. Beberapa daerahnya bahkan mencatat akumulasi curah hujan yang mencapai lebih dari 500 mm sejak Kamis (13/7) pekan lalu.Sembilan orang hingga saat ini masih belum ditemukan, termasuk delapan orang yang dinyatakan hilang di Provinsi Gyeongsang Utara.Badan cuaca itu memprediksikan potensi tambahan curah hujan sebanyak 200 mm pada Rabu (19/7) di wilayah tengah dan selatan negara itu.Sebanyak 10.765 orang dari 16 kota dan provinsi telah dievakuasi menyusul kerusakan akibat hujan deras.Jumlah kerusakan fasilitas umum tercatat mencapai 789 kasus, yang meliputi runtuhnya sejumlah lereng jalan, kerusakan dan kehancuran jalan, tanah longsor, dan banjir.Sementara itu, kerusakan pada fasilitas pribadi tercatat mencapai 352 kasus, meliputi rumah yang rusak dan runtuh, kendaraan yang terendam air, perahu nelayan yang rusak, hingga dinding yang ambruk.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Resensi Buku: Ketika Bocah Berfilsuf (Catatan menjadi pengeja sebuah buku)
Indonesia
•
16 Oct 2022

Nobel kedokteran dimenangkan ahli genetika Swedia untuk eksplorasi DNA kuno
Indonesia
•
04 Oct 2022

Perguruan tinggi panda raksasa pertama di China mulai terima mahasiswa
Indonesia
•
08 Jul 2024

Kelahiran di Swedia catat angka terendah dalam dua dasawarsa
Indonesia
•
08 Aug 2022


Berita Terbaru

Di New York, Taiwan tunjukkan kepeloporan dalam kesetaraan gender
Indonesia
•
17 Mar 2026

Ramadan 1447H – Kamar Dagang China di Indonesia beri bantuan kepada buruh rentan, via kerja sama dengan Serikat Buruh Muslim Indonesia
Indonesia
•
13 Mar 2026

Feature – Pengobatan tradisional China solusi kesehatan mental di zaman modern
Indonesia
•
14 Mar 2026

Mengintip aksi pendongeng hibur murid SD di Banten
Indonesia
•
11 Mar 2026
