
Ilmuwan China ungkap alasan nyeri memburuk pada malam hari

Ilustrasi. (Towfiqu barbhuiya on Unsplash)
Mekanisme ritme sirkadian nyeri merupakan pola biologis yang sudah dikenal, yakni biasanya lebih lemah saat beraktivitas dan lebih kuat saat beristirahat.
Hefei, China (Xinhua/Indonesia Window) – Banyak penderita nyeri kronis merasa ketidaknyamanan mereka masih dapat ditoleransi pada siang hari tetapi tak tertahankan pada malam hari, dan sebuah tim dari China kini telah berhasil mengungkap mekanisme saraf di balik fluktuasi harian ini.
Studi tersebut, yang dipimpin oleh Zhang Zhi dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China (University of Science and Technology of China) di Provinsi Anhui, China timur, dipublikasikan pada Jumat (20/3) dalam jurnal Science.
Meskipun ritme sirkadian nyeri merupakan pola biologis yang sudah dikenal, yakni biasanya lebih lemah saat beraktivitas dan lebih kuat saat beristirahat, mekanisme yang mendasarinya masih belum jelas. "Jam biologis utama" di otak, yakni suprachiasmatic nucleus (SCN) di hipotalamus, diketahui mengatur tidur dan hormon, namun kaitan langsungnya dengan nyeri belum terungkap.
Dengan menggunakan teknologi pelacakan virus canggih, tim tersebut memetakan jalur saraf spesifik pada tikus yang menghubungkan SCN dengan sumsum tulang belakang. Para peneliti menemukan bahwa neuron dalam jalur ini dikendalikan oleh ritme harian SCN.
Karena tikus adalah hewan nokturnal, siklus aktivitas mereka berkebalikan dengan manusia. Selama periode istirahat tikus (siang hari), SCN sangat aktif, sehingga mendorong sirkuit ini untuk memperkuat sinyal nyeri di sumsum tulang belakang. Pada malam hari, ketika tikus aktif, aktivitas SCN menurun, sehingga secara alami mengurangi intensitas sinyal nyeri yang ditransmisikan melalui sumsum tulang belakang.
"Penemuan ini menjelaskan mengapa sensitivitas nyeri mengikuti ritme harian," jelas Zhang Zhi, seraya menambahkan bahwa hal ini juga memberikan dasar teoretis baru untuk menyempurnakan manajemen nyeri klinis dengan menyelaraskan jadwal perawatan dengan jam biologis alami tubuh.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi temukan kereta pengangkut batu bara tingkatkan polusi udara di perkotaan AS
Indonesia
•
03 May 2023

Memahami pengaruh Madden–Julian Oscillation terhadap curah hujan di Indonesia
Indonesia
•
16 Jan 2026

Tutupan awan menyusut, perburuk pemanasan global
Indonesia
•
20 Jun 2025

China kembangkan perangkat sterilisasi UVC anti virus corona
Indonesia
•
06 Aug 2021


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
