
Media: Meski inflasi mereda, masyarakat AS masih resah soal ekonomi

Konsumen memilih produk di sebuah pasar swalayan di Foster City, California, Amerika Serikat, pada 10 April 2024. (Xinhua/Li Jianguo)
Inflasi tahunan AS telah menurun dari level tertinggi dalam 40 tahun di angka 9,1 persen pada pertengahan 2022 lalu menjadi 3 persen pada Juni 2024.
New York City, AS (Xinhua/Indonesia Window) – Meskipun kenaikan harga yang dipicu oleh pandemik sudah melambat secara substansial, masyarakat Amerika Serikat (AS) masih dibayangi oleh kenaikan biaya kumulatif yang mereka hadapi sejak dimulainya krisis kesehatan tersebut, terutama untuk barang-barang kebutuhan pokok seperti makanan dan bahan bakar, lansir USA Today pada Senin (12/8)."Data terbaru menunjukkan bahwa belakangan ini konsumen menjadi lebih sensitif soal harga bahkan ketika inflasi sudah mereda, setidaknya sebagian karena tabungan era COVID mereka mulai menipis," tulis laporan tersebut."Fakta bahwa (harga-harga) tidak lagi mengalami kenaikan nyatanya tidak menenangkan konsumen," terutama masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah yang telah merasakan beban kenaikan biaya, kata Scott Hoyt, seorang ekonom di Moody's Analytics, seperti dikutip dalam laporan tersebut. "Konsumen ingin melihat harga-harga turun, tetapi itu tidak terjadi," katanya.Pandangan masyarakat mengenai inflasi sangat penting karena hal ini dapat memengaruhi pengeluaran mereka, yang mencakup 70 persen dari aktivitas ekonomi dan telah melambat namun tetap kuat sejauh ini, menurut laporan tersebut.Inflasi tahunan AS telah menurun dari level tertinggi dalam 40 tahun di angka 9,1 persen pada pertengahan 2022 lalu menjadi 3 persen pada Juni, menurut indeks harga konsumen (IHK) Departemen Tenaga Kerja AS. Laporan IHK Juli, yang akan dirilis pada Rabu (14/8), diperkirakan akan menunjukkan bahwa inflasi secara keseluruhan stabil di angka 3 persen pada Juli, tetapi ukuran inti yang tidak meliputi komoditas pangan yang fluktuatif (volatile food) dan energi turun menjadi 3,2 persen dari 3,3 persen, urai laporan tersebut."Meskipun konsumen tetap relatif positif terhadap pasar tenaga kerja, mereka tampaknya masih khawatir tentang kenaikan harga dan suku bunga," kata Dana Peterson, kepala ekonom di The Conference Board, mengenai survei bulan Juli kelompok itu."Masyarakat AS memang memiliki daya beli yang lebih besar, namun mereka tidak benar-benar merasa seperti itu," tulis surat kabar tersebut.Hal yang menjadi kekhawatiran konsumen saat ini adalah perubahan harga yang terjadi selama beberapa tahun terakhir, tutur Hoyt.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Bank of China buka kantor cabang di ibu kota Arab Saudi
Indonesia
•
07 Sep 2023

Produsen mobil mewah Italia Lamborghini laporkan rekor penjualan pada 2023
Indonesia
•
24 Mar 2024

Feature – Harga dan desainnya menarik, kendaraan listrik China jadi pilihan kaum muda di Indonesia
Indonesia
•
29 May 2024

Beijing perdalam kerja sama internasional setelah optimalkan respons COVID
Indonesia
•
19 Jan 2023


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
