
Feature – Irak berjuang bendung fenomena pekerja anak usai puluhan tahun perang dan konflik

Salih (12) memuat kayu ke gerobaknya di sebuah pasar grosir di Baghdad, Irak, pada 8 Juni 2024. (Xinhua/Khalil Dawood)
Invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003 tak hanya menghancurkan aparatur negara Irak, namun juga menghancurkan tatanan politik dan stabilitas sosial di negara itu serta menyebabkan kekacauan politik, ekonomi, dan sosial yang serius.
Baghdad, Irak (Xinhua) – Salih (12) tidak pernah menginjakkan kaki di ruang kelas. Setelah ayahnya tewas dalam serangan bom mobil beberapa tahun yang lalu, beban keluarganya berada di pundak kecilnya.Sebagai anak laki-laki tertua di keluarga beranggota tujuh orang, hari-harinya dihabiskan untuk menjelajahi pasar grosir al-Shorja di Baghdad, mendorong gerobak yang penuh barang dengan upah tak seberapa, selama enam hari dalam sepekan.Salih bukanlah satu-satunya pencari nafkah muda dalam keluarganya. Adik laki-lakinya yang berusia 10 tahun juga bekerja keras di pasar karena ada banyak orang yang harus diberi makan di keluarga mereka."Saya berharap bisa pergi ke sekolah dan menghabiskan waktu bersama teman-teman," kata Salih. Dirinya tidak dapat membayangkan seperti apa kehidupan sekolah atau apa cita-citanya kelak. Memenuhi kebutuhan dasar keluarganya telah menyita seluruh waktu dan energinya.Salih hanyalah satu dari ribuan anak di Irak yang terpaksa bekerja karena dampak kemiskinan dan ketidakstabilan.Dalam rangka memperingati Hari Dunia Menentang Pekerja Anak yang jatuh pada Rabu (12/6), pemerintah Irak menghadapi perjuangan berat untuk membendung meluasnya fenomena pekerja anak.Mohammed Fahim, seorang pengacara di Baghdad, mengatakan bahwa undang-undang Irak melarang pekerja anak di bawah usia 15 tahun, dengan hukuman bagi pelanggar yang bisa berupa sanksi penjara atau denda. Namun, ribuan keluarga miskin terpaksa mengirim anak-anak mereka bekerja meski hukuman menanti, karena tidak ada hukuman yang lebih berat daripada kelaparan.
Abbas (14) bekerja di bengkel pertukangan di Baghdad, Irak, pada 8 Juni 2024. (Xinhua/Khalil Dawood)
Sajjad (14) bekerja di sebuah bengkel pandai besi di Baghdad, Irak, pada 8 Juni 2024. (Xinhua/Khalil Dawood)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

PBB: India akan lampaui China sebagai negara terpadat pada 2023
Indonesia
•
11 Jul 2022

Belajar di rumah, Anais kuasai 10 bahasa
Indonesia
•
22 Aug 2021

UN Habitat Assembly serukan percepatan pembaruan perkotaan
Indonesia
•
07 Jun 2023

COVID-19 - 73 negara kehabisan antiretroviral AIDS
Indonesia
•
08 Jul 2020


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
