
Iran kecam kehadiran AS di Suriah, sebut sebagai “agresi illegal”

Sebuah kendaraan militer Amerika Serikat melewati daerah Tal Tamr di wilayah pedesaan Provinsi Hasakah, Suriah timur laut, pada 14 November 2019. (Xinhua)
Serangan militer udara AS pada Selasa (23/8) di Provinsi Deir ez-Zor, Suriah timur diluncurkan atas arahan Presiden AS Joe Biden dan menargetkan fasilitas-fasilitas infrastruktur yang digunakan oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Jakarta (Indonesia Window) – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran pada Jumat (26/8) mengecam kehadiran militer Amerika Serikat (AS) di Suriah sebagai "pendudukan" dan serangan udara terbaru AS di sana sebagai "agresi ilegal terhadap para pembela kemerdekaan dan integritas wilayah Suriah."Nasser Kanaani menyampaikan pernyataan itu dalam sebuah cuitan di Twitter, mengutuk justifikasi AS atas serangan udara pada Selasa (23/8) di Provinsi Deir ez-Zor, Suriah timur.Dia mengecam AS karena secara keliru mengklaim serangan udara baru-baru ini sebagai respons langsung terhadap apa yang mereka sebut serangan milisi pro-Iran terhadap pasukan Amerika di Suriah.Dalam sebuah pernyataan yang dirilis di situs jejaring kementerian itu pada Rabu (24/8), Kanaani mengatakan serangan AS tersebut merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas wilayah Suriah. Dia juga menyangkal adanya hubungan antara negaranya dengan kelompok-kelompok yang menjadi sasaran serangan udara di Suriah.Dia menekankan bahwa kehadiran militer AS yang berkelanjutan di Suriah melanggar hukum internasional dan dianggap sebagai pendudukan, dan klaim AS tentang kehadirannya di Suriah yang ditujukan untuk memerangi terorisme hanya dalih untuk melanjutkan pendudukan tersebut.Komando Pusat AS mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Rabu (24/8) bahwa serangan udara AS sehari sebelumnya diluncurkan atas arahan Presiden AS Joe Biden dan "menargetkan fasilitas-fasilitas infrastruktur yang digunakan oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran."Korps Garda Revolusi Islam Iran merupakan cabang dari Angkatan Bersenjata Iran yang didirikan setelah Revolusi Iran pada 22 April 1979 atas perintah Ayatollah Ruhollah Khomeini.Menurut konstitusi Iran, Garda Revolusi dimaksudkan untuk melindungi sistem politik Republik Islam Iran dan sistem Islam, serta mencegah campur tangan asing dan kudeta oleh militer atau 'gerakan menyimpang'.Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Wawancara: Demokrasi China didasarkan pada realitas nasional dan layak dipelajari
Indonesia
•
04 Nov 2022

KTT ASEAN-GCC ke-2 buka jalan bagi peningkatan kolaborasi antarkawasan dan penguatan resiliensi
Indonesia
•
29 May 2025

COVID-19 – Tinjauan Uni Eropa untuk pendaftaran vaksin Sputnik V dimulai Februari
Indonesia
•
22 Jan 2021

Arab Saudi persiapkan kedatangan satu juta jamaah haji tahun 2022
Indonesia
•
09 Apr 2022


Berita Terbaru

Feature – Saat ekonomi terpuruk, makanan gratis jadi harapan bagi warga rentan di Sanaa, Yaman
Indonesia
•
17 Mar 2026

Fokus Berita – Misi militer AS di Selat Hormuz ditolak sekutu Eropa
Indonesia
•
17 Mar 2026

Komandan Korps Garda Revolusi sebut Selat Hormuz tidak ditutup, tetapi berada di bawah kendali Iran
Indonesia
•
17 Mar 2026

Iran tak minta gencatan senjata atau negosiasi, siap bela diri selama yang diperlukan
Indonesia
•
17 Mar 2026
