
Iran bertekad tolak tekanan Barat terkait program nuklirnya

Sejumlah pengunjuk rasa mengikuti aksi demonstrasi di Teheran, Iran, pada 8 Oktober 2024. (Xinhua/Shadati)
Iran menandatangani Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) dengan sejumlah kekuatan dunia pada 2015, menyetujui pembatasan aktivitas nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi.
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref pada Senin (9/12) menegaskan komitmen negara itu terhadap negosiasi atas program nuklirnya, tetapi dengan tegas menolak segala bentuk "tuntutan membayar tebusan," demikian menurut kantor berita resmi Iran, IRNA.Dalam kunjungan ke Organisasi Energi Atom Iran (Atomic Energy Organization of Iran/AEOI), Aref mengkritik ancaman Barat untuk mengaktifkan mekanisme balasan (snapback mechanism), yang akan mengembalikan penerapan sanksi internasional terhadap Teheran. Dia menekankan fokus Iran pada "interaksi konstruktif" guna mencabut "sanksi yang kejam" sambil terus melanjutkan "kegiatan nuklir yang damai."Aref menegaskan lagi kesiapan Iran untuk bergabung kembali dengan Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) 2015 jika pihak-pihak lain juga kembali patuh. Dia menyoroti transparansi Iran dalam kegiatan nuklirnya dan kepatuhannya terhadap kesepakatan perlindungan tersebut, yang memastikan penggunaan bahan dan teknologi nuklir secara damai.Menolak pernyataan Barat baru-baru ini tentang mekanisme balasan, Aref memperingatkan bahwa tindakan seperti itu hanya akan mengakhiri JCPOA. Dia menambahkan, "Strategi kami adalah membalas aksi dengan aksi."Iran menandatangani JCPOA dengan sejumlah kekuatan dunia pada 2015, menyetujui pembatasan aktivitas nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi. Namun pada 2018, Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan tersebut dan kembali memberlakukan sanksi, sehingga memicu Iran untuk mengendurkan komitmennya. Perundingan untuk mengaktifkan kembali JCPOA, yang telah dilakukan sejak 2021, hingga saat ini masih menghadapi kebuntuan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Prancis dilanda karhutla terburuk 2026, hampir 100.000 hektare lahan hangus
Indonesia
•
26 Jul 2026

COVID-19 - Kementerian Kesehatan Rusia rencanakan vaksinasi massal pada Oktober
Indonesia
•
04 Aug 2020

Departemen Kehakiman AS luncurkan penyelidikan dewan juri agung atas klaim intelijen Rusia era Obama
Indonesia
•
06 Aug 2025

Netanyahu klaim Israel punya “kendali mutlak” di Suriah, janji gulingkan pemerintah Iran
Indonesia
•
10 Sep 2026


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
