
Iran rencanakan peluncuran satelit pada akhir Maret 2023

Roket pengangkut Kuaizhou-11 Y2 yang membawa satelit uji Sistem Pertukaran Data VHF (VHF Data Exchange System/VDES) lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di China barat laut pada 7 Desember 2022. Satelit itu diluncurkan pada pukul 09.15 Waktu Beijing atau 08.15 WIB dan berhasil memasuki orbit yang direncanakan. (Xinhua/Wang Jiangbo)
Peluncuran satelit Iran – setidaknya dua satelit – Nahid 1 dan Nahid 2, diharapkan dapat dilakukan pada akhir Maret 2023, namun memicu keprihatinan Amerika Serikat bahwa peluncuran semacam itu dapat meningkatkan teknologi rudal balistik Iran, dan memperluas potensi peluncuran hulu ledak nuklir.
Jakarta (Indonesia Window) – Iran bersiap untuk meluncurkan "setidaknya dua satelit" ke luar angkasa pada akhir Maret, kata Menteri Telekomunikasi Issa Zarepour pada Ahad (18/12), lebih dari sebulan setelah berhasil menguji sebuah peluncur.Amerika Serikat (AS) telah berulang kali menyuarakan keprihatinan bahwa peluncuran semacam itu dapat meningkatkan teknologi rudal balistik Iran, dan memperluas potensi peluncuran hulu ledak nuklir.Tetapi Iran menegaskan tidak membuat senjata nuklir dan bahwa peluncuran satelit dan roketnya hanya untuk tujuan sipil atau pertahanan.“Satelit Nahid 1 dan Nahid 2 sedang disiapkan,” kata Zarepour seperti dikutip kantor berita resmi IRNA.Nahid adalah nama yang diberikan untuk serangkaian satelit telekomunikasi yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Antariksa Iran.Menurut Zarepour, "kami akan meluncurkan pada akhir tahun," 20 Maret dalam kalender Persia.Pada awal November lalu, televisi pemerintah Iran mengumumkan “peluncuran suborbital yang sukses dari peluncur satelit bernama Ghaem-100”.Roket Ghaem-100 diproduksi oleh organisasi kedirgantaraan Korps Pengawal Revolusi Islam (The Islamic Revolutionary Guard Corps) dan merupakan peluncur satelit berbahan bakar padat tiga tahap pertama di negara itu, jelas saluran TV itu.Iran berhasil menempatkan satelit militer pertamanya ke orbit pada April 2020, yang menuai teguran keras dari Washington.Pada Agustus tahun ini, satelit Iran lainnya, bernama Khayyam, diluncurkan oleh Rusia dengan roket Soyuz-2.1b dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan.Badan antariksa Iran mengatakan, perangkat itu dibangun oleh Rusia di bawah pengawasan Iran.Amerika Serikat menuduh pada saat itu bahwa Khayyam akan memungkinkan “kemampuan mata-mata yang signifikan” dan bahwa aliansi Rusia-Iran yang semakin dalam menjadi “ancaman besar” bagi dunia.Badan antariksa Iran menolak tuduhan itu, membantah bahwa tujuan Khayyam adalah untuk "memantau perbatasan negara," dan membantu pengelolaan sumber daya alam dan pertanian.Sumber: AFP; Al Arabiya EnglishLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Perubahan iklim dorong deteksi DNA teritip invasif di Arktik Kanada
Indonesia
•
15 Sep 2025

COVID-19 – Studi baru temukan gejala kecemasan meningkat selama pandemik
Indonesia
•
02 May 2023

Ilmuwan China ungkap mekanisme pengatur keanekaragaman tumbuhan di kepulauan tropis
Indonesia
•
03 Jan 2024

Telaah – Internet industri 5G+ canggihkan sektor tradisional China
Indonesia
•
26 Nov 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
