
Jajak pendapat ungkap konflik Iran tidak populer di kalangan mayoritas warga AS

Masyarakat menghadiri aksi unjuk rasa menentang serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran di luar Balai Kota Los Angeles, California, AS, pada 7 Maret 2026. (Xinhua/Qiu Chen)
Konflik Iran tidak populer di kalangan sebagian besar warga Amerika Serikat, sebagaimana sejumlah survei terbaru menunjukkan penentangan yang meluas di seluruh negeri.
Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Konflik Iran tidak populer di kalangan sebagian besar warga Amerika Serikat (AS), sebagaimana sejumlah survei terbaru menunjukkan penentangan yang meluas di seluruh negeri.
Jajak pendapat terbaru New York Times/Siena menemukan bahwa 64 persen responden meyakini keputusan untuk berperang dengan Iran merupakan keputusan yang salah, sejalan dengan hasil jajak pendapat serupa lainnya.
Rosa King (45), seorang pekerja kantoran di luar Washington DC, kepada Xinhua mengatakan bahwa dirinya "kecewa" terhadap seorang presiden yang menurutnya "dikendalikan" oleh Israel.
Brad Garcia (34), seorang karyawan penjual mobil di dekat Washington DC, kepada Xinhua mengatakan bahwa dia meyakini Israel memiliki pengaruh yang terlalu besar terhadap AS.
Selain itu, sejumlah besar pemilih Partai Republik yang lebih muda dan pemilih independen yang cenderung mendukung Partai Republik semakin skeptis terhadap pelaksanaan perang tersebut serta dampak finansial jangka panjangnya, menurut jajak pendapat.
"Trump mengira Iran akan menjadi kemenangan yang cepat dan mudah, dan dia dapat bernegosiasi dengan para pemimpin baru di sana. Namun, tidak satu pun dari hal itu menjadi kenyataan," kata Darrell West, senior fellow di Brookings Institution, kepada Xinhua.
Reaksi penolakan publik muncul akibat tidak adanya tujuan strategis yang jelas serta dampak ekonomi yang parah. Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz telah memicu lonjakan 50 persen harga bahan bakar domestik, yang mendorong tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap kinerja Presiden AS Donald Trump turun ke rekor terendah.
Sementara itu, pada Rabu (20/5), Trump mengeklaim bahwa konflik di Iran hampir berakhir. "Kita sudah memasuki tahap akhir (konflik) Iran," katanya kepada para wartawan saat naik ke pesawat Air Force One.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi," katanya. "Kita mungkin akan mencapai kesepakatan atau melakukan beberapa hal yang agak tidak menyenangkan, tetapi mudah-mudahan itu tidak akan terjadi."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

New York City berlakukan pembatasan kedatangan bus migran
Indonesia
•
29 Dec 2023

AS-Israel akan tandatangani perjanjian tolak senjata nuklir Iran
Indonesia
•
14 Jul 2022

China dan Laos tekankan pentingnya persahabatan dua negara tetangga
Indonesia
•
02 Dec 2022

COVID-19 - WHO tunda percobaan hidroksikloroquin sebagai obat COVID-19
Indonesia
•
26 May 2020


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
