
China dan Jerman perkuat kerja sama penelitian jelai

Seorang penduduk desa mengikat jelai dataran tinggi di Desa Waba yang terletak di Ra'og, Kota Qamdo, Daerah Otonom Xizang, China barat daya, pada 4 September 2023. (Xinhua/Tenzin Nyida)
Jelai atau barley, yang dikenal dengan kemampuan adaptasinya yang baik dan daya tahan yang kuat terhadap stres, merupakan komoditas sereal terbesar keempat di dunia.
Beijing, China (Xinhua) – Ilmuwan China dan Jerman menjalin kerja sama erat untuk meningkatkan kolaborasi internasional dalam bidang penelitian jelai (barley), ungkap Akademi Ilmu Pertanian China (Chinese Academy of Agricultural Sciences/CAAS).Jelai atau barley, yang dikenal dengan kemampuan adaptasinya yang baik dan daya tahan yang kuat terhadap stres, merupakan komoditas sereal terbesar keempat di dunia.Tim ilmuwan dari Institut Ilmu Tanaman (Institute of Crop Sciences/ICS) China, yang dinaungi oleh CAAS, serta Institut Genetika Tanaman dan Penelitian Tanaman Pangan Leibniz (Leibniz Institute of Plant Genetics and Crop Plant Research) Jerman bersama-sama memublikasikan penelitian tentang riset dan pemanfaatan sumber daya plasma nutfah, serta teknologi genomika dan bioinformatika jelai, urai Direktur ICS Zhou Wenbin dalam Simposium Internasional tentang Adaptasi Jelai.Hasil-hasil yang telah dicapai tersebut secara efektif membantu penelitian dasar China soal jelai dan meningkatkan pengaruh para peneliti jelai asal China di kancah internasional, imbuh Zhou.Proyek kerja sama dan pertukaran China-Jerman terkait analisis genomika populasi adaptasi jelai, yang diprakarsai bersama oleh kedua institut, telah berjalan dengan baik sejak peluncurannya pada November 2022.Ilmuwan China dan Jerman meraih berbagai pencapaian dalam hukum formasi terkait adaptasi jelai terhadap keragaman iklim menggunakan teknologi genomika yang canggih.Simposium itu akan berkontribusi pada pertukaran dan kerja sama antara China dan Jerman di bidang penelitian akademis dan aplikasi industri jelai, tutur Zhou.Simposium yang diselenggarakan di Beijing oleh kedua institut itu berlangsung mulai 22 hingga 26 April.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Italia berpotensi kehilangan seperlima pantai akibat kenaikan permukaan air laut pada 2050
Indonesia
•
01 Nov 2025

Memahami sabuk radiasi sebagai pelindung bagi Bumi
Indonesia
•
31 Jul 2024

Wuling umumkan akan produksi baterai canggih secara lokal di Indonesia
Indonesia
•
22 Sep 2024

Tim ilmuwan temukan ‘Korus Luar Angkasa’ jauh dari Bumi
Indonesia
•
24 Jan 2025


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
