
Survei: Terorisme domestik dan kekerasan bermotif politik jadi ancaman terbesar di AS pada 2024

Seorang wanita membentangkan spanduk tentang dakwaan mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di depan Gedung Pengadilan AS E. Barrett Prettyman, yang akan menjadi lokasi persidangan Trump, di Washington DC, AS, pada 1 Agustus 2023. (Xinhua/Aaron Schwartz)
Kasus terorisme domestik dan kekerasan bermotif politik di Amerika Serikat (AS), khususnya menjelang pemilihan presiden (pilpres) 2024, dinilai sebagai ancaman terbesar terkait dampaknya terhadap kepentingan AS dan kemungkinannya untuk terjadi atau mengalami eskalasi pada 2024.
New York City, AS (Xinhua) – Peluang terjadinya kasus terorisme domestik dan kekerasan bermotif politik di Amerika Serikat (AS), khususnya menjelang pemilihan presiden (pilpres) 2024, dinilai sebagai ancaman terbesar terkait dampaknya terhadap kepentingan AS dan kemungkinannya untuk terjadi atau mengalami eskalasi pada 2024, menurut sebuah survei tahunan yang belum lama ini dirilis."Berkembangnya polarisasi politik di AS, khususnya menjelang pilpres 2024, mengarah pada aksi terorisme domestik dan kekerasan politik," demikian bunyi deskripsi skenario itu menurut survei yang dilakukan oleh Center for Preventive Action di bawah naungan wadah pemikir Council on Foreign Relations (CFR) yang berbasis di New York.Untuk kali pertama dalam 16 tahun sejarahnya, Preventive Priorities Survey menemukan bahwa kekhawatiran utama para ahli kebijakan luar negeri bukanlah ancaman asing terhadap kepentingan AS, ungkap pernyataan CFR pada Kamis (4/1).Survei ini dilakukan pada November 2023 dan didasarkan pada respons sekitar 550 pejabat pemerintah AS, pakar kebijakan luar negeri, dan akademisi, yang masing-masing diminta untuk memperkirakan dampak dari 30 konflik kekerasan yang sedang berlangsung atau berpotensi terjadi terhadap kepentingan AS dan kemungkinannya untuk terjadi atau mengalami eskalasi pada 2024.Tiga skenario dinilai memiliki peluang yang besar untuk terjadi dan dampak yang serius, yang belum pernah didapati sebelumnya sejak survei ini dimulai pada 2008. Selain aksi kekerasan yang berkaitan dengan pilpres di AS, para ahli juga khawatir soal eskalasi perang Israel-Hamas menjadi konflik regional yang lebih luas dan lonjakan kedatangan migran di perbatasan barat daya AS.Tujuan utama pelaksanaan survei yang pertama kali diadakan pada 2008 ini adalah untuk menyediakan informasi bagi para pembuat kebijakan AS tentang sumber-sumber ketidakstabilan dan konflik di luar negeri yang memiliki potensi ancaman agar mereka dapat mengambil tindakan pencegahan yang tepat waktu dan mengurangi risiko intervensi militer tambahan, menurut CFR.Pada tahun-tahun sebelumnya, hanya risiko yang berasal dari luar negeri atau yang bersumber dari luar negeri terhadap kepentingan AS yang dievaluasi dalam survei ini. Namun, dalam pengumpulan kontingensi publik untuk survei 2024, tingkat kekhawatiran tentang risiko kekerasan bermotif politik di AS, khususnya menjelang pilpres 2024, terlalu besar untuk diabaikan, kata CFR.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Israel tingkatkan kesiapan militer di dekat Gaza
Indonesia
•
25 Feb 2025

Serangan udara AS terhadap Houthi jadi contoh kebijakan intervensi militer Washington di Timur Tengah
Indonesia
•
18 Mar 2025

Saudi semakin hijau dengan 50 ribu pohon
Indonesia
•
28 Oct 2019

Arab Saudi umumkan pencabutan penangguhan umroh bertahap
Indonesia
•
14 Sep 2020


Berita Terbaru

Feature – Saat ekonomi terpuruk, makanan gratis jadi harapan bagi warga rentan di Sanaa, Yaman
Indonesia
•
17 Mar 2026

Fokus Berita – Misi militer AS di Selat Hormuz ditolak sekutu Eropa
Indonesia
•
17 Mar 2026

Komandan Korps Garda Revolusi sebut Selat Hormuz tidak ditutup, tetapi berada di bawah kendali Iran
Indonesia
•
17 Mar 2026

Iran tak minta gencatan senjata atau negosiasi, siap bela diri selama yang diperlukan
Indonesia
•
17 Mar 2026
