
Tim peneliti terapkan AI dalam perawatan mata

Zheng Hong, pemimpin departemen oftalmologi Rumah Sakit No. 1 Sanming, Provinsi Fujian, China, memeriksa mata seorang pasien di Pusat Rumah Sakit Regional Fatick di Fatick, Senegal, pada 2 Mei 2025. (Xinhua/Si Yuan)
Kecerdasan buatan mampu membantu dokter dalam berbagai skenario, mulai dari klinik perawatan primer hingga pusat spesialis.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Upaya kolaborasi penelitian internasional yang dipimpin oleh sejumlah ilmuwan China telah mengungkap model dasar berbasis penglihatan yang menjanjikan transformasi perawatan mata di seluruh dunia.Model ini mendemonstrasikan, melalui uji klinis internasional, bagaimana kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan segera mampu membantu dokter dalam berbagai skenario, mulai dari klinik perawatan primer hingga pusat spesialis.Diterbitkan di jurnal Nature Medicine, studi yang dipimpin oleh Universitas Tsinghua dan Universitas Jiao Tong Shanghai ini membagikan detail mengenai EyeFM, sebuah sistem AI yang dilatih dengan 14,5 juta citra okular dan teks klinis berpasangan dari kumpulan data global multietnis. Sistem ini diciptakan oleh kedua universitas tersebut bersama sejumlah kolaborator internasional.Sebanyak 44 dokter mata dari China, India, Malaysia, Denmark, Guinea Ekuatorial, dan Amerika Serikat, yang bekerja di klinik perawatan primer dan khusus, memvalidasi efikasinya, menyoroti kegunaan EyeFM sebagai pendamping klinis.Tim itu juga menambahkan fitur "umpan balik dokter", putaran cepat yang membuat model ini cocok digunakan di klinik dengan sumber daya rendah dan rumah sakit khusus dengan kompleksitas tinggi.Berbagai perangkat AI serupa sebelumnya cenderung hanya belajar dari satu jenis data, sehingga tidak dapat memproses beragam informasi seperti yang dapat dilakukan dokter. Perangkat-perangkat ini biasanya hanya memeriksa catatan lama dan tidak diuji terlebih dahulu dalam berbagai skenario dan fasilitas perawatan. Hampir tidak ada yang menjalani uji coba acak, sementara hanya ada sedikit studi yang mengkaji bagaimana dokter dan AI dapat bekerja sama.Dalam uji coba tipe double-masked dan single-center yang melibatkan 668 pasien berisiko tinggi di China, 16 dokter mata dipilih secara acak untuk menggunakan EyeFM atau perawatan standar saja selama skrining penyakit retina. Dalam analisis awal, dukungan EyeFM meningkatkan akurasi diagnostik menjadi 92,2 persen, dibandingkan dengan 75,4 persen pada kelompok kontrol.Studi ini memberikan bukti tingkat tinggi bahwa model AI medis yang besar dapat mendukung perawatan primer dan khusus, menawarkan pedoman siap pakai untuk mengubah AI menjadi alat praktik klinis sehari-hari yang efektif.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti Indonesia temukan jenis baru ular air, jumlah spesies ular di Sulawesi jadi 60
Indonesia
•
24 Jan 2024

Situs prasejarah berusia 13.200 tahun ditemukan di China timur
Indonesia
•
08 Jan 2023

‘Easy card’ buat hidup semakin mudah di Taiwan
Indonesia
•
11 Apr 2021

Studi sebut ukuran Galaksi Bimasakti bisa jadi lebih besar dari yang diperkirakan
Indonesia
•
12 Jul 2024


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
